Wanita Gua dan Permasalahan Klasiknya

Para wanita gua, duduklah melingkar, api unggun telah dinyalakan. Cahaya luar yang menyilaukan itu, suatu saat akan memanggil kita juga. Bayangkan dirimu ada di antaranya, di bawah terpaan matahari dan desau angin. Sampai saat itu tiba, marilah kita berdoa.

Foto Saya
Nama:
Lokasi: Solo, Jawa Tengah, Indonesia

Cavewoman adalah saya. Di dalam gua, duduk seorang diri terkurung oleh kegelapan. Saya adalah seorang wanita yang mengutarakan hal-hal yang ada dalam benak, dan apa yang saya maui. Kelak saya akan keluar dari gua, menjadi orang biasa, melahirkan anak-anak saya dan membentuk keluarga yang luar biasa. Pasti.

Sabtu, 28 Maret 2009

Blogito Ergo Sum, Saya Ngeblog Maka Saya Ada


Saya mengenal istilah blog sudah sejak lama, tapi baru kali ini saya benar-benar memanfaatkannya sebagai tempat untuk menulis. Dulu pernah punya blog di blogspot dengan ambisi tapi terus memudar karena kesibukan dan keterbatasan akses.
Saya memanfaatkan situs seperti livejournal dan del.icio.us sebagai situs untuk menandai atau membuat tag dari situs yang saya kunjungi dan worth read. Tapi lalu kini, setelah saya memutuskan akan banyak menulis, saya berharap akan juga mendapat feedback, tapi dengan pemahaman bahwa barangkali masih lama sekali sebelum saya akan benar-benar bisa mapan. But who cares right?
Seseorang yang tampaknya sesuai dengan judul di atas menuliskan tips-tips blogging supaya blognya get noticed fast di wadehel.wordpress
Mungkin masih puluhan tahun lagi, atau barangkali seperti Gogh yang mati sebelum lukisannya menjadi terkenal, sebelum blog ini akan penuh orang yang mau membaca tulisan saya hehehe.

Label:

60 Menit untuk Perubahan



Hari Bumi yang diperingati 28 Maret kemarin menjadi spesial buat saya. Ada agenda yang diiklankan di televisi, mengajak semua orang untuk mematikan lampu rumahnya pada malam hari pukul 20.30 WIB sampai 21.30 WIB atau satu jam dalam hari itu, yaitu pada saat puncak pemakaian daya listrik. Menurut berita di surat kabar (Jawa Pos, 29 Maret 2009) sebesar 300 Mega watt telah dihemat hanya di Jakarta saja, yang besarnya bisa dipakai buat menyalakan lampu di 900 desa. Hebat kan? Dimotori oleh World Wildlife Fund (WWF), masyarakat Jakarta telah antusias bahkan sejak sebulan sebelumnya. Dan tentu saja di kota-kota lain juga ada orang-orang yang peduli dan turut berpartisipasi walaupun tidak seterkoordinasi seperti di Jakarta. Tahun depan pada 28 Maret orang-orang LSM berencana akan mengembangkan kegiatan ini hingga ke kota-kota lain.

Saya menyadari, bahwa dibandingkan alam semesta yang luar biasa besar, bumi hanyalah seper -entah berapa dari sebutir pasir. Bumi yang kecil ini telah memberikan segala yang ia miliki, dan sebagai gantinya, seperti kanker manusia menancapkan akar-akar dan terus merusaknya. Tidak seperti Pangeran Kecil yang mencintai dan merawat planet kecil beserta mawarnya, kita sering lupa bahwa perbandingan kerusakan yang terus kita buat di muka bumi ini dengan kemampuan bumi untuk mengembalikannya seperti semula sama sekali tidak seimbang. Kalau kita membayangkan berapa juta tahun bahan bakar fosil baru dapat terbentuk, maka sungguh cepat dan sembrono cara kita menghabiskan dan mengeruknya. Bumi ini semakin lama akan semakin mengerut dan saat kita sadar, bukan wanita muda lagi yang akan tampak, tapi nenek tua getir yang doyan marah-marah. Hujan es turun di mana-mana, sesuatu yang barangkali oleh pihak yang sinis dianggap sebagai hal yang biasa. Hal. Yang. Biasa. Apa-apaan isi otaknya itu, kepingin rasanya aku membenturkan kepalanya yang keras ke dinding beton hingga hancur.

Amerika sialan dan brengsek itu tidak juga mau menandatangani protokol Kyoto. Dipikirnya mereka siapa? Tuhan? Dan setelah semua gas buang yang mereka lepas ke angkasa, kini semua menoleh ke Indonesia, ke arah hutan di Borneo, memerintahkan negara ini menjaga green belt, dan mengecam pembalakan liar dan kebakaran hutan. Well Uncle Sam, you may eat my shit. Seenak perutnya saja mereka memutuskan. Tandatangani dulu protokol itu, baru mereka berhak bicara. Tahukah mereka kalau merekalah sumber produsen gas buang paling besar, dan bahkan lebih besar dari negara dunia ketiga digabungkan jadi satu? Keparat brengsek itu.

Nah, mungkin hanya satu suara kecil milikku ini tidak akan menggerakkan gunung, tapi aku yakin bahwa orang-orang akan bersatu pada suatu titik, menyadari bahwa bumi adalah satu-satunya yang mereka punya. Sampai saat itu tiba, maka langkah-langkah kecil akan menjadi pembeda dari orang-orang yang peduli dan tidak, orang-orang yang tahu dan melakukan sesuatu dari orang-orang yang tahu namun tetap diam.

Seorang teman saya meng-sms saya mengatakan bahwa ia tidak bisa melakukan dan berpartisipasi, hal yang sebenarnya wajar dan tidak masalah bagi saya, toh satu saklar lampu pun cukup, atau bahkan niat baik. Namun alih-alih mengatakannya, dia malah berkata “aku ora melu-melu” (saya tidak ikut-ikutan). Menyakitkan sekali bukan buat didengarkan, dan kalimat selanjutnya seolah mengatakan bahwa percuma kalau satu jam, seharusnya hal itu adalah hal yang menjadi kebiasaan. Yang tidak temanku tersayang ini ketahui, adalah bahwa tidak ada hal yang percuma di dunia ini. Semuanya akan membawa implikasi-implikasi walaupun kecil, samar dan seolah tidak ada. Dan tentu saja barangkali dia lupa kalau tidak semua orang sepertinya, tidak semua orang memiliki pengetahuan soal ini, dan tidak semua orang siap untuk melakukan lompatan besar. Lalu lebih parah lagi, dia menuduh saya pamer. PAMER. God, saya hanya berusaha menjelaskan bahwa di masa SMP, SMA, dan awal kuliah saya adalah pengguna angkutan umum sejati, untuk memberikan contoh hal-hal yang bisa dilakukan, dan dia menuduh saya pamer. Demi Tuhan, saya tidak akan berkata demikian seandainya dia juga tidak menyinggung-nyinggung soal keluarganya yang super hemat itu. Siapa juga yang ingin menyuruh dia mematikan lampu pabrik atau tokonya yang hebat? Asal kesadaran dipetik, dan dia berusaha melakukan sesuatu yang tidak usah disebutkan rasanya cukup, seolah-olah saya berusaha menjadi yang paling baik saja dengan mengajak, meng-sms semua teman saya dengan harapan informasi dan pengetahuan itu dapat tersalur dan bukannya berdiam di pengapnya rongga tengkorak.

Teman saya itu juga bahkan mengatakan bahwa ketika dia melihat di sekeliling rumahnya lampu-lampu neon masih menyala dengan terang benderang (yang karenanya tidak ada alasan buat dia berpartisipasi), hell, memangnya dia pikir kita ini siapa? Gubernur yang bisa memadamkan lampu di seluruh kota? Justru poin dan inti dari 60 menit SWITCHING OFF ini adalah menunjukkan suara kita, atau silence voting, melakukannya dengan hal-hal termudah yang bisa kita lakukan. Lagi saya tekankan, saya tidak bermaksud memaksanya atau menghakiminya gara-gara tidak mau mematikan lampu. Please itu hak setiap orang. Tapi juga jangan mengajukan alasan semacam itu, yang menunjukkan bahwa seolah-olah hal ini dilakukan kalau kita berada dalam mayoritas. Bentuk ibadah kepada Tuhan tidak hanya berbentuk solat, puasa, zakat, haji, amal muamalah, tapi juga rasa syukur pada Alloh SWT yang kita tunjukkan lewat bagaimana kita menjadi khalifah yang baik di muka bumi ini. Sesederhana itu. Semalam mungkin rumah saya adalah satu-satunya yang gelap gulita di daerah Jaten, tapi mungkin juga tidak. Sebagian teman yang saya SMS menyatakan berpartisipasi, dan semua tampak bersemangat. Menyenangkan sekali.

Satu jam dalam kegelapan itu adalah waktu yang tepat buat sejenak mengingat, mengoreksi diri, dan memikirkan cara-cara yang selanjutnya bisa kita pakai buat menjadikan hidup kita lebih bermakna ketimbang sekedar bertahan hidup dan acuh terhadap hal selainnya. What a pity, sayang sekali.

Langkah-langkah sederhana untuk mencegah global warming:

1. Hemat penggunaan plastik

Hei kita sudah tahu bahwa plastik adalah senyawa yang tidak akan terurai selama ratusan juta tahun, karenanya kita harus mengurangi ketergantungan pada plastik. Tips mudahnya adalah dengan berbelanja dengan menggunakan kantong kain yang bisa dipakai berkali-kali dan awet. Atau kalaupun terpaksa, maka simpan plastik dan pakailah beberapa kali sebelum dibuang. Kurangi mengkonsumsi minuman kemasan, yang bisa diakali dengan membawa minum dari rumah dalam wadah minum. Tas kain yang berwarna hijau dan bertuliskan Go Green banyak dijual di Alfamart terdekat seharga Rp 6.000,00.

2. Hemat Penggunaan Kertas

Saat kamu hendak membuang kertas, ingatlah berapa juta pohon yang ditebang untuk dibuat jadi bubur kertas tiap tahunnya. Jadi penggunaan kantong kertas pun sama harus dihemat sebagaimana kantung plastik.

3. Hemat Listrik

Sesederhana jari tangan yang memencet sakelar lampu, matikan yang tidak terpakai. Sesederhana itu.

4. Hemat Bahan Bakar

Naik bis atau transportasi umum lainnya kalau memungkinkan. Lakukan segala hal yang bisa dan tidak menyulitkan diri.

Semoga Tuhan menyertai kita.

Label: , ,

The End of an Era



Dalam hidup, saya termasuk orang yang menyaksikan banyak era berakhir dan digantikan oleh masa yang baru. Masa reformasi datang menggantikan kekaguman nyaris memuja pada sosok Soeharto. Masa penuh kecuekan dan anggapan bahwa masalah seperti pemanasan global masih terlalu jauh dan hanya pelajaran sampingan saat SD telah berakhir dan kini permasalahan semacam itu kian mendekat dan menghantui saya di manapun saya berada. Masa ketika saya menganggap perkataan orangtua adalah titah dan perintah mereka adalah hukum juga pelan-pelan memudar semakin saya menyadari sebagian besar ancaman mereka cuma omong kosong untuk menakut-nakuti burung. Rentang kehidupan saya, zaman saya, dipenuhi oleh pergantian yang tak tercegah, sebagaimana seorang bijak pernah mengatakan bahwa yang abadi adalah perubahan itu sendiri.

Saya akui, barangkali saya adalah orang oportunis, ke mana arah angin bertiup ke sanalah saya melangkah. Jika ada satu kelebihan yang saya miliki adalah kemampuan beradaptasi dengan cepat. Sudah saya sadari sejak lama, bahwa saya memiliki kecenderungan gampang mengambil hati orang, tahu benar kapan mengeluarkan kalimat-kalimat yang walaupun tidak kentara akan mampu menyenangkan hati orang yang mendengarnya. Mungkin ini juga ada kaitannya dengan empati yang saya punya (yang kelihatannya menurun dari ayah saya), yang membuat saya tidak akan pernah mengatakan bahwa potongan rambut baru seseorang jelek walaupun memang senyatanya buruk sekali di kepalanya. Saya selalu berusaha memahami rasanya, berada di dalam sepatu orang itu, dengan rasa tidak percaya diri, terpaksa menyandang rambutnya yang baru selama beberapa bulan ke depan dengan tekanan batin, sementara sebagian orang lain yang saya kenal akan enteng saja mengatakan, “Ya ampun jelek banget, nggak cocok ah, bagusan yang lama!” Benar-benar tidak berperasaan, tapi itu juga mayoritas orang.

Mungkin batasan antara mengambil hati dan berbohong sangat tipis, dan bahkan lebih tipis lagi dibandingkan dengan menjilat. Barangkali memang itulah saya, seorang penjilat. Tapi bukan itu yang ingin saya coba katakan lewat entry kali ini. Tuhan tahu bahwa saya adalah seorang yang loyal, tapi saya juga adalah makhluk kecil pendendam dan sama sekali tidak naif untuk mengharapkan tingkat kesetiaan yang sama dari semua orang. Sewaktu SD saya selalu menjadi bayang-bayang dari seorang teman yang menunjuk dirinya sendiri menjadi Siluman Ular Putih dan aku selalu menjadi second best, Siluman Ular Hijau dalam drama yang kami mainkan selama istirahat sekolah. Tapi saya segera melepaskan diri dari bayangannya dan menjadi Queen Bee setelah kepindahannya ke desa yang lebih terpencil. Segalanya kembali berubah setelah masa SMP, dan saya dengan lihai melakukan penyesuaian lain lagi dengan kehidupan bersama anak-anak nakal. Lagi-lagi saya menjadi bayangan dari pemimpin cewek-cewek ndugal, namun saya tidak keberatan. 4 tahun masa SD telah melatih saya menjadi pengikut yang hebat, namun walaupun kami menjadi sangat akrab dan runtang-runtung ke mana-mana dalam kelompok tidak sekalipun saya terhisap terlalu jauh ke dalam permainan kami. Dia berakhir dengan hamil di luar nikah, sedangkan kini saya adalah calon sarjana yang bingung memutuskan akan bekerja di stasiun TV, menjadi PNS, ataukah sekolah S2 untuk menyenangkan hati orangtua (tanpa pacar).

Dengan gerakan luwes lainnya, saya melepaskan diri dari kenangan masa SMP dan menceburkan diri di masa SMA yang seperti neraka. Tapi lagi-lagi saya juga mempunyai kawan yang dengan mereka saya selalu runtang-runtung. Kelompok kami adalah kelompok anak-anak pintar yang walaupun IPS, tapi pintar dan menyukai komik dan seri kartun Jepang (setidaknya dua dari enam orang menyukai komik). Benar-benar nerd sejati, tidak terbayang kehidupan SMP yang penuh kenakalan, dan beberapa teman di luar kelompok yang melihat saya akan mengatakan kalau saya orang yang eksentrik. Cerdas, tapi eksentrik. Tapi yang tidak mereka tahu, pada saat itulah saya mendapati kecenderungan saya menjadi copycat. Lagi-lagi saya lengket dengan pemimpin kelompok yang lebih dominan, dan saya menyerap dan mengkopinya dan begitu ingin jadi seperti dia. Tapi suatu kejadian mengubah saya, dan pelahan tapi pasti saya menyadari betapa besar perbedaan di antara kami, betapapun ingin saya menjadi dirinya, saya tidak akan pernah biasa. Dia adalah manusia tipe A sejati yang di mata saya terkesan sangat menarik, tapi saya hanyalah tipe B akhir yang berusaha ingin menjadi si A, namun dengan kadar empati dan sifat flamboyan yang terlalu besar.

Masa SMA juga akan saya namai dengan sebutanera Cosanostra. Teman-teman dalam kelompok kami akan paham maksudnya, tapi saya terus bertanya-tanya, apakah saya memang benar-benar Cosanostra, ataukah hanya berlagak menjadi Cosanostra? Dengan limbung kelompok solid berenam kami terpisah-pisah, dan saya memasukkan diri ke dalam kelompok lain lagi yang walaupun tidak sama eratnya namun juga memiliki tingkat solidaritas tinggi. Dan masa SMA pun berakhir, dengan satu orang yang masih tersisa bersama saya, kami memasukkan diri ke dunia perkuliahan yang seperti dunia lainnya Dorothy dan Alice. Untuk sementara saya cukup puas dengan menjadi si freak, bergaul dengan anak aneh itu, memuaskan keinginan saya akan segala hal berbau-bau otaku. Oh, God, kalau saya ingat masa-masa kegelapan itu. Tapi ibarat mutiara yang terlalu terang untuk terus berada dalam tumpukan jerami, akhirnya orang-orang menemukan saya. Beberapa anak yang secara materi sangat berkecukupan, namun memiliki kompleksitas kini menjadi teman-teman dekat saya, dan perlahan tapi pasti saya melepaskan pegangan si aneh. Mungkin teman-teman saya akan menertawakan kalau saya bilang kadang-kadang merindukan kebersamaan kami. Tapi tentu saja saya tidak akan mengakuinya. Masa-masa itu terlalu jauh di belakang, dan terbukti keputusan saya tepat. Dengan sokongan teman-teman baru, posisi saya dalam pergaulan pun meningkat, dengan mereka saya kembali berusaha menciptakan lingkaran kecil yang kuat, dan kali ini saya tidak akan membiarkan seorangpun mendikte saya. Sayalah pemimpinnya, saya melihat kata-kata saya didengar dan rasanya menyenangkan. Tapi mungkin memang sejak awal saya telah berbakat dengan hal itu, membisikkan keinginan saya dan membuat seolah-olah hiu tempat saya menempellah yang menginginkannya. Jadi ini rasanya “come out”.

Pada salah satu tugas kuliah, bahkan saya telah berhasil membentuk satu lagi kelompok yang solid. Lagi-lagi dengan kemampuan saya membuat mereka berpikir bahwa kelompok ini adalah kelompok hebat yang akan mereka sayangi dan menjadi tempat yang cocok buat mereka. Saya berhasil mengeluarkan kemampuan terbaik hampir setiap orang dan menjadikan diri saya diakui. Lalu tugas perang (kuliah kerja) memanggil, dan saya mesti meninggalkan sarang yang nyaman buat pergi ke ibukota. Dan seperti yang mungkin sudah kauduga, saya berhasil membuat mereka mempedulikan keberadaan saya dan bahkan menganggap saya sebagai salah satu magang yang paling berkesan. Tidak semua orang bisa melakukan ini, tentu saja, mereka bahkan menelepon buat menawarkan pekerjaan yang akhirnya tidak saya terima. Mungkin inilah saya, setelah mengubah suatu tempat menjadi sarang yang enak buat ditinggali, saya akan memandang keluar jendela, dan melihat-lihat tempat menarik lainnya buat ditaklukkan. Saya bukan pembosan, tapi barangkali saya adalah oportunis sejati yang berhasil menyembunyikan diri.

Dan ketika pada tugas terakhir buat memproduksi film dokumenter diumumkan, dengan tenang saya membelokkan langkah kaki, mengkhianati teman-teman dalam kelompok saya yang lalu, yang memandang kepergian saya dengan wajah aneh. Saya bohong, saya bukannya tidak cemas. Kelompok saya yang lama kebetulan terdiri dari mereka yang terkenal mumpuni di bidang-bidang yang tidak saya kuasai. Saya akan aman berada bersama mereka, bahkan posisi saya telah ditentukan. Tapi di tengah hiruk pikuk kebingungan itulah, saya memutuskan buat melangkahkan kaki ke arah yang lain, menuju teman-teman saya yang lain, yang meskipun tidak terlalu expert, namun merekalah tempat saya bisa bergantung nanti setelah semua ini selesai. Saya tidak akan membahayakan persahabatan yang penting ini dengan sebuah pengkhianatan. Dan dengan kelompok bentukan baru yang masih asing itulah, saya berusaha dengan sekuat tenaga mempersatukan semuanya, membuat mereka ingat dan mempercayai, bahwa hanya kelompok inilah yang mereka miliki. Tidak penting apakah saya juga mempercayainya, yang jelas kami berhasil meraih nilai kumulatif tertinggi.

Kini, setelah semua euforia telah berlalu, beberapa masih terikat dengan keinginan mengembalikan kejayaan yang telah lama memudar. Saya adalah orang yang loyal pada teman-teman dekat saya, namun mereka tidaklah cukup dekat untuk mendapatkan kadar kesetiaan yang sama besar. Dan terbukti mereka telah melakukannya, menikam teman saya di depan mata saya sendiri. Dan yang saya lakukan selanjutnya adalah sebuah langkah mudah. Lebih mudah dari beberapa perpisahan yang saya jalani selama ini. Bahwa setelah sudah tidak ada lagi stimulus seperti “nilai”, dan juga “tugas kuliah” maka kelompok yang pernah berjaya ini akan perlahan kehilangan gaungnya. Saya memahami penuh, bahwa inilah yang disebut sebagai akhir dari sebuah era. Bahwa sudah cukup kebersamaan saya dengan masa-masa menyenangkan itu, berada dan menjadi bagian dalam kelompok itu, dan sudah saatnya saya melangkahkan kaki lagi menuju tempat yang lebih tinggi lagi, yang lebih jauh lagi yang sejauh kaki saya dapat capai.

Lalu apakah saya akan datang pada acara reuni kumpul-kumpul yang akan mereka adakan hari ini nanti siang? Sepertinya tidak.

Saya membayangkan apakah saya akan berhasil sampai ke tempat di mana saya akan dapat menghabiskan waktu saya dengan damai. Mungkin setelah lulus nanti saya akan memulai pencarian saya. Dan jika beruntung, barangkali saya akan menemukan sebuah tempat yang bisa saya sebut sebagai milik saya. Era baru telah datang, selamat tinggal.

Label:

Jumat, 27 Maret 2009

5 Alasan Kenapa Saya Memuja Buku-Buku Linda Howard

Linda Howard adalah nama pena dari penulis berkebangsaan Amerika Serikat, Linda Howington. Buku pertamanya yang saya baca adalah Almost Forever yang judul terjemahannya kurang begitu saya ingat. Kesan yang saya dapat setelah membacanya, adalah saya begitu terpikat oleh dinamik antara Max Benedict dan Claire, yang berbeda dan belum pernah saya dapatkan setelah membaca roman Harlequin manapun. Sosok Max benar-benar memengaruhi saya berjam-jam pada malam harinya setelah saya selesai membaca, dan bahkan membuat saya membaca ulang seluruh buku itu, walaupun saya belum pernah melakukannya sebelumnya. Oh ya, saya menyukai kisah-kisah roman Harlequin, ada masanya ketika saya selalu berburu buku baru di persewaan, namun entah kenapa selalu saja ada yang off, atau tidak pada tempatnya dalam benak saya. Entah ceritanya terlalu klise, tokoh utama wanitanya kurang berkarakter, hero yang kelewat menyebalkan, jalan cerita yang terlalu lambat dan membosankan, dan bahkan cerita yang agak sensitif. Misalnya Sandra Brown, karya yang pertama saya baca sekaligus menjadi favorit saya setelahnya, judulnya saya lupa tapi bersampul biru atau ungu tua dengan tokoh utama bernama Marnie dan tokoh pria seorang mantan astronot. Saya tidak tahu pendapat orang-orang lain, tapi walaupun secara umum saya suka cerita itu (harlequin pertama, sehingga ada semacam keterikatan emosional) tapi saya tidak nyaman membacanya. Sandra Brown senang sekali memakai kisah adik perempuan yang suka kekasih kakak perempuannya, atau yang lebih menyebalkan anak perempuan yang suka kekasih ibunya. Hiiee! Ada batas-batas di dunia ini, jika ingin membuat cerita yang gelap seperti itu, buatlah seserius mungkin, siapa tahu kau akan berakhir menjadi Vladimir Nobokov yang lain. Tapi ini kisah romantis, seharusnya bikin perut pembaca memelintir senang bukannya muak.

Dari Almost Forever saya seperti diarahkan untuk membaca Sarah’s Child. Almost Forever adalah sekuel, sehingga dengan mudah saya masuk dan meresapi cerita tentang Buah Hati Sarah. OHO, tidak perlu dikatakan lagi, semenjak itu saya kecanduan Linda Howard, berusaha mencari bukunya yang lain lagi, tapi setelah Heartbreaker dan White Lies tidak ketemu yang lainnya. Saya patah hati. Barulah bertahun-tahun kemudian, saya melihat judul baru, dan lupa sama sekali kalau penulisnya adalah salah satu yang paling saya gemari: After the Night, alias Menanti Fajar. Sejak halaman pertama rasa-rasanya seluruh tubuh dan pikiran saya tersedot ke dalam pusaran cerita, menghempaskan saya ke kiri dan ke kanan bersama Faith Devlin, gadis buangan yang bangkit dari kubangan sampah. Deskripsi Howard benar-benar membuat saya takjub, sangat detail dan hingga sesaat saya lupa kalau itu adalah genre harlequin yang seharusnya tidak perlu sebagus itu (hei, salahkan saya yang sinis ini). Kalau ada tokoh utama Harlequin yang saya paling ingin menjadi dirinya, tentu saja itu Faith Devlin Hardy atau Rouillard, whatever. Membayangkan menjadi objek gairah pria yang digambarkan oleh Howard sebagai pria yang kokoh bagai batu karang, dengan perangai mirip bajak laut, tinggi besar, memancarkan gairah dari setiap sel-sel tubuhnya… WHOOOOOOOOOOO! (Kamu mengerti perasaan saya kan?) Gray Rouillard jelas hero yang memuaskan. Beberapa teman yang saya tanyai setuju kalau After the Night adalah kisah paling memorable dalam sejarah harlequin yang pernah kami baca, dan Howard telah menancapkan standar baru yang sangat tinggi. Beberapa kali saya mencoba membaca karya-karya lainnya yang hampir mirip jalan ceritanya, tapi tidak ada yang sekuat, sekeras, dan semeluluh lantakkan Menanti Fajar, baik itu jalan cerita, karakter, dan bahkan sex scene nya sangat luar biasa dan membuat para wanita terhanyut… UWOOOOOOOOOOOOO! Berikut bermunculan karya Linda yang lain, seperti To Die For, Killing Time, Mr. Perfect, Dream Man, dan beberapa judul lainnya yang bervariasi.

Sebenarnya apa formula yang dipunyai Linda Howard yang membuatnya memiliki basis fans yang sangat setia dan bahkan cenderung bonek (saya)? Ia menulis mulai dari kisah pemilik ranch, perawan yang mencintai biilionaire, peramal, detektif dari masa depan, staf keuangan bermulut kotor, hingga pemilik pusat kebugaran. Tokoh-tokohnya bervariasi, dengan laki-laki yang juga sangat bervariasi, tapi saya dengan mudah dapat menarik benang merah yang menjadi persamaan seluruh kisah-kisah Howard (setidaknya yang sudah diterbitkan Gramedia, namun saya berani bertaruh kisah yang lain pun pasti sama, perut saya mulas hanya dengan membicarakannya!!!). Apa itu?

“I think for it to be real (romance writers) absolutely have to love men to begin with. I do – I think they’re wonderful creatures. I think every thinking woman should own one,” kata Linda Howard dalam sebuah wawancara.

Dan memang tampak jelas kecintaan Howard pada para pria dalam bukunya. Siapa yang tidak terpesona oleh pria macam Dane Hollister, Sam Donovan, John Rafferty, Max Benedict, Gray Rouillard, Rome Matthews, mereka semua adalah pria alpha to the max, dalam artian pria yang nyaris sempurna. Mereka adalah pria yang ada pada puncak evolusi Darwin, lebih pintar, lebih cepat, lebih kuat dari pria lain. Hal ini, kata Howard disebabkan karena wanita yang kuat membutuhkan pria yang kuat untuk mengimbanginya. Baiklah, berikut ini adalah lima alasan kenapa saya ingin jadi stalkernya Linda Howard kalau saja ia tinggal di Indonesia.

1. Ciri khas tokoh utama pria yang berbeda dari buku karangan penulis lain

Karakteristik itu antara lain:

- Pria-Pria Howard barangkali playboy, arogan, dan pernah tidur dengan banyak wanita, tapi dia sangat setia pada heroine yang dipasangkan dengannya. Ini adalah syarat wajib seorang hero buatan LH. Itu barangkali bisa disebabkan karena ia belum pernah jatuh cinta sebelumnya, dan mencintai sang tokoh utama wanita seringkali menjadi hal yang tidak disukainya, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa buat mengendalikannya. Sehingga mau tidak mau ia terpaksa harus mengakuinya kalau tidak mau kehilangan wanita miliknya. Jadi tidak mungkin ada kasus cinta segi tiga di mana Dane Hollister ternyata pacar saudara perempuannya Marnie, dsb, oh please)

- Sangat, sangat, sangat menggairahkan. Dengan fisik yang sempurna dan prima, pria-pria Howard benar benar pria impian setiap wanita. Sepertinya naluri biologis mereka adalah untuk menghamili sebanyak mungkin wanita di muka bumi, tapi entah kenapa (kadang mereka sendiri bahkan tidak menyadari maupun menyukai hal ini) ia hanya bisa melakukannya dan mencintai terhadap satu orang wanita saja. Hasrat seksualnya akan tertuju pada satu orang itu saja.

- Sangat, sangat, sangat posesif. Pria Howard selalu ingin melindungi dan menjaga wanita milik mereka. Laki-laki lain yang mendekati wilayah mereka harus siap menghadapi amukan dan kemarahan pria-yang luar biasa menakutkan. (Ex: Rome Matthews vs Max Benedict dalam Sarah’s Child). Kadangkala dibutuhkan pria lain untuk membuat sang hero sadar bahwa ia tidak bisa kehilangan kekasihnya.

2. Ciri khas tokoh utama wanita

Saya tidak tahu buku-bukunya yang lebih lama, tapi dari buku-buku yang diterbitkan di sini, saya melihat semakin lama para heroine dari Linda Howard menjadi semakin independen dan percaya diri. (Ex: bandingkan Jane Bright dengan Evangeline dari Loving Evangeline). Para wanita Howard ini adalah wanita yang tidak akan bisa menahan diri bila berada di dekat pasangan tandingnya. Pengaruh para pria itu terlalu besar dan kuat untuk bisa ditolaknya. Seandainya saja lelakinya tahu kalau ia akan mudah ditundukkan dengan ciuman, tapi biasanya para wanita Howard mampu menyembunyikan perasaannya dengan baik (sampai tahap tertentu) dan berdiri di atas kedua kakinya sendiri. Mereka tidak akan merengek jika lelakinya meninggalkan mereka. Sakit hati jelas, tapi di balik kerapuhan fisik mereka yang mungil, tersimpan tekad yang kuat yang tidak akan tergoyahkan. Wanita-wanita Howard mempunyai harga diri, karena itulah mereka sudah pasti tidak akan mencumbu mantan pacar kakaknya atau ibunya, tidak akan bercinta dengan pria beristri, dan kadang beberapa heroine seperti Jane atau Faith tahu benar bagaimana menggunakan kekuatannya untuk menaklukkan si tokoh pria, dan membuat mereka tak berdaya.

3. Sex scene yang luar biasa

Dalam banyak board diskusi tentang buku-buku roman, adegan seks buatan Linda Howard selalu disebutkan. Banyak yang menganggap bahwa LH menuliskan adegan percintaan yang efektif, yang terkadang bahkan sangat keras dan kasar atas nama kebutuhan untuk selalu bersentuhan yang sangat menarik buat dibaca. Saya berpendapat bahwa adegan percintaan dalam buku-buku LH cenderung bersumber dari sudut pandang dan keputus-asaan gairah si lelaki, yang membuatnya terasa lebih keras menghentak, yang menjadikan bukunya berbeda dari pengarang lain. Cowok-cowok Howard adalah tipe pemburu yang selalu mengejar dan membutuhkan wanita tertentu di sisinya, membayangkan diri saya menjadi fokus dari tipe intensitas itu membuat jantung saya berdebar-debar. (mendesah)

4. Dinamitas hubungan yang di luar pakem

Poin keempat ini adalah tribute buat After the Night, di mana Howard mendobrak pakem dengan menciptakan dua karakter utama yang tidak biasa. Faith Devlin berada di atas rata-rata heroine dalam kisah Harlequin. Ia adalah gadis yang tidak kenal takut, cerdas, luar biasa cantik, puritan, namun benar-benar independen. Sedangkan Gray Rouillard barangkali adalah sosok hero yang sedikit keluar jalur dari pakem tokoh utama pria, walaupun tentu saja tidak meninggalkan kaidah karakteristik tokoh pria di atas. Ia barangkali adalah satu-satunya tokoh utama pria Harlequin yang berkarakter kejam. Banyak pembaca mengeluh mereka tidak bisa memaafkan perlakuan Gray, bahwa Faith terlalu cepat memaafkan pria itu, walaupun tentu saja kita sepenuhnya memahami alasannya. Selain Gray beberapa karakter Howard juga sedikit melampaui batas, seperti perlakuan Rome Matthews pada Sarah yang membuat kita menangis. Tapi semua itu menjadikan mereka lebih spesial.

5. Plot

Banyak orang beranggapan membaca harlequin tidak perlu memperhatikan plot. Tapi buku-buku terbaru LH mempunyai plot aktual yang cukup menegangkan dan menarik untuk dibaca. Sepertinya kesukaannya yang terbaru adalah menulis roman suspense, dengan ketegangan dan misteri yang harus dipecahkan. Jangan membayangkan Agatha Christie atau Sidney Sheldon tentu saja, tapi memang cukup membosankan kalau kita hanya membaca kisah cinta sekretaris dengan bosnya tanpa plot yang berarti. Setidaknya jika mereka nekad melakukannya tanpa plot yang memuncak, kedua tokoh utamanya harus benar-benar kuat, tapi biasanya gagal.

DONE. Seandainya saya bisa menjadi heroine dalam sebuah buku, maka saya akan memilih menjadi Faith Devlin. Kalau kamu belum membaca After the Night, maka kamu belumlah sepenuhnya melek Harlequin. Hehehe.

Kalau saya membayangkan seperti apa ya cowok Linda Howard itu, barangkali yang seperti cowok yang dipakai dalam pemotretan ini:

Atau mungkin malah gay? Hmh memang karakter fiksi dalam benak kita susah kalau mau diterjemahkan dalam kehidupan nyata. Tapi memang yumm.



Label: , , ,

If I Were A Boy

Seandainya saya terlahir laki-laki. Saya tahu, saya tahu. Dalam agama seseorang tidak boleh berkata “seandainya”. Tapi saya juga sama yakinnya bahwa Tuhan menciptakan otak yang sedemikian luar biasa buat kita manusia ini, dan imajinasi yang diproduksinya bukan untuk dibiarkan terparkir begitu saja di garasi. Tidak ada yang salah kalau kepingin rileks sejenak, bersandar di kursi, berselonjor, dan membiarkan pikiran mengembara.

“Seandainya saya seorang laki-laki,” rintih Beyonce dalam lagunya yang indah itu. Sejak dulu hingga sekarang, masalah gender adalah salah satu yang paling sering dibicarakan, diperdebatkan, difilmkan, dinyanyikan, diberitakan, ditulis, dibicarakan, dan bahkan hingga sekarang, ketika semakin memudarnya era para feminis radikal (yang beranggapan bahwa para pria hanya berharga karena sperma yang mereka miliki), nyatanya di era masa kini semakin bermunculan wanita-wanita independen yang mendobrak tradisi. Mereka telah menginjak kepala tiga akhir, single, dan mempunyai penghasilan sendiri yang bisa menyokong gaya hidup mereka tanpa sokongan laki-laki manapun, seperti yang biasa kita para wanita terima sejak awal zaman. Film dengan penggambaran para wanita modern terus bermunculan, mulai dari serial The Mary Tyler Moore Show hingga ke yang lebih kekinian seperti The Devil Wears Prada, maupun Sex and the City. Buat saya yang hidup di kota kecil yang jauh dari kebisingan ibukota, pengalaman magang selama dua bulan di salah satu stasiun TV swasta ternama semakin membuka mata kalau sesungguhnya kisah-kisah dalam chick lit terjemahan yang saya baca itu tidak mengada-ada. Seluruh ritme yang ada tampaknya tergesa-gesa, mirip para Tuan Kelabu dalam Momo, berusaha mencuri waktu sebanyak mungkin untuk melakukan hal-hal. Tidak berlebihan rasanya kalau di kota besar itu, rasa-rasanya saya menjadi tokoh dongeng yang terseret pusaran dan terlempar ke dimensi lain.

Para wanita semakin berkuasa. Mereka berada di posisi-posisi yang paling berpengaruh dan membawahi para pria, namun tidak berarti mereka akan cukup aman, sebab selalu ada stigma yang menempel padanya yang tidak akan digubris seandainya pria yang berada di posisi yang sama. Saya tidak memungkiri bahkan dalam agama juga tertera, bahwa pada dasarnya laki-laki dan perempuan memang berbeda, dan dalam hal tertentu laki-laki ditakdirkan lebih kuat, gesit, dan cepat dari para wanita. Ini seolah memberi mereka prerogatif atas banyak hal yang tidak akan bisa dicecap oleh wanita, hanya karena dia seorang wanita.

Saya membayangkan diri saya yang laki-laki, memandang dunia ini dari ketinggian yang berbeda, mungkin 20 senti lebih tinggi dari biasanya. Mengenakan celana dalam pria, menjadi testosteron berjalan, dengan tubuh yang kuat dan kekar dan sesuatu yang terasa berbeda di balik celana. Mungkin saya akan mengenakan kemeja, jas, dan dasi hanya karena sangat ingin menghayatinya, menemui kekasih saya di restoran untuk melamarnya. Saya bertanya-tanya apa yang akan saya pikirkan pada saat itu. Akankah saya tipe nomaden seperti Denysnya Karen, ataukah pemurung, ataukah setia, ataukah sebaliknya, ataukah seksis, ataukah tipe yang menyenangkan dan protektif. Apakah saya mampu membuat perbedaan yang walaupun kecil namun sangat berarti bagi kekasih saya, atau wanita bakal kekasih saya, atau hell, belahan jiwa yang bahkan belum pernah saya temui.

Seandainya saja saya ini seorang laki-laki, maka saya akan membuat perbedaan. “I’ll listen to her,” kata Beyonce, menjadi pria yang dapat diandalkan dan dipercaya. Karena seorang teman saya pernah berkata dengan penuh keyakinan, “Harga diri seorang laki-laki ada pada komitmennya.” Saya meyakininya juga, sebab seorang pria dengan lidah plin-plan barangkali juga membuat saya kepingin menonjok mukanya juga.

Seandainya saya seorang pria, pria yang sempurna, maka kualitas yang seharusnya ada pada diri saya adalah:

Kesetiaan

Komitmen

Kasih sayang

Gairah

Kepercayaan Diri

Integritas

Kecerdasan

Beberapa teman saya berkata bahwa mungkin kekasih yang sempurna hanyalah bila seorang pria bukanlah pria, tapi wanita yang mampu mengerti dan memahami perasaan mereka. Saya pernah bereksperimen dengan menyamar sebagai seorang laki-laki, dengan chat bersama teman-teman cewek, dan rata-rata mereka terpesona oleh sosok imajiner yang saya tampilkan, mengatakan bahwa dia adalah cowok yang tidak akan segan-segan mereka pacari. Begitu mempesona dan penuh pengertian, memberikan komentar yang tepat di saat yang tepat, dan mendengarkan saat waktunya mendengar, tidak pernah menyudutkan dan menggurui. Saya berpikir mungkin barangkali saya memang yang paling memiliki sifat kelelaki-lakian di antara teman-teman. Bahkan nama yang diberikan buat saya pun bukan nama lazim buat perempuan. Tapi sudahlah, barangkali itulah sebabnya para pria begitu menarik. Toh saat mengetahui bahwa dengan sayalah teman-teman chat selama ini membuat mereka agak berang. Katanya saya merusak mimpi mereka, dan menambah keyakinan kalau di luar sana pria ideal memang tidak mungkin ada.

Coz you’re just a boy, you don’t understand.”


Label: ,

Kamis, 26 Maret 2009

Miss Stephenie Meyer, Please Stop Writing

Demam Twilight.

Sh*t.

Saya termasuk yang menonton filmnya dulu baru membaca novelnya. Waktu melihat filmnya pertama kali, saya pikir, well, ini impian para gadis. Siapa sih orangnya yang tidak mau menjadi Bella Swann, dicintai dengan sekuat tenaga seperti itu oleh vampire ganteng yang serba bisa. Ini seperti masa remaja kurang bahagia, impian musim panas, atau mimpi di siang hari para cewek, untuk terlibat dalam kasus hidup dan mati, tapi sepenuhnya tahu kalau ada Edward Cullen yang selalu siap mengorbankan nyawa demi ceweknya. Untuk ini, saya beri Meyer jempol, karena mampu membidik bagian pling peka yang pernah dimiliki oleh seorang gadis: keinginan untuk mempunyai pacar super ganteng, super hebat, super sexy, super smart, super cepat, super menggairahkan.

O-HO, tapi bahkan wajah Edward Cullen hanya mampu membuat saya terpekik-pekik kegirangan sambil memegang tangan teman yang duduk di sebelah karena gemas, tidak membuat saya tidak jadi merasakan bahwa film barusan yang saya tonton sekosong perut saya saat menulis entry ini. Konflik yang seharusnya datang sejak awal (menurut buku skenario karangan penulis kenamaan yang saya baca) malah diisi Bella yang penasaran, dan Edward yang plin-plan, dan kisah asyik masuk, yang detailnya asyik saja kalau kita baca di buku tapi membosankan ditonton. Konflik tentang kedatangan tiga vampir tidak cukup buat membangun ketegangan sebuah film berdurasi 90 menit, dan kisah Bella yang terpaksa melarikan diri untuk menyelamatkan semua orang (please, she's like the most egoistic character I've ever read) sepertinya pointless, dan kurang berarti. Kok lebih mirip film seri ya, hanya Buffy the Vampire Slayer yang sama-sama mengangkat soal percintaan dengan vampir jauh lebih berbobot dan lebih bagus. Kisah cinta yang seharusnya terlarang dan membuat berdebar-debar karena godaannya itu rasanya malah jadi cerita romantis penuh sakarin yang terlalu manis hingga sulit ditelan.

Dengan berbekal kebebalan sesaat karena telah dibutakan oleh Robert Pattinson, saya memutuskan akan memberikan kesempatan kedua pada bukunya. Karena bisa jadi mungkin adaptasinya ke filmlah yang membuatnya jadi jelek. Lalu saya berencana membeli keempat jilidnya, namun agen dari persewaan buku langganan baru membawakan jilid pertama, yang entah bagaimana saya syukuri karena saya jadi tidak perlu membuang-buang uang untuk membeli buku ini.

Saya membayangkan ketegangan dan kenikmatan saat membaca buku itu, seperti The Lord of The Rings tetap memikat saya walaupun telah melihat filmnya, tapi memang salah saya sendiri membandingkan Tolkien dengan siapapun. Standardnya terlalu tinggi. Buku itu penuh dengan kalimat yang diulang-ulang dan terkesan sangat dangkal. Mulai dari penulisannya, hingga karakter tokoh-tokohnya, bahkan sang tokoh utama. Pesona Bella Swan, ketimbang berlandaskan kekuatan karakter yang sanggup membuat kita berpikir kalau dia ada dan nyata di suatu tempat, merasakan apa yang ia rasakan, melihat apa yang dia lihat, seperti Jean-Louise (Scout) Finch dalam To Kill a Mockingbird, Margaret dalam Are You There God? It's me Margaret, lebih berlandaskan kelebihan dan hal-hal yang sifatnya magis. Pada mulanya ia nobody dan sekonyong-konyong para pria dan vampir berebut ingin mendapat perhatiannya. Seperti mengapa Edward mencintainya, atau mula-mula tertarik padanya bukanlah berdasarkan karakter Bella sendiri, melainkan karena aroma dan keperawanannya, yang membuat sang vampir mabuk. Lantas apa bedanya hal semacam itu, dengan misalnya seorang pria memilih kekasih karena ceweknya "hot", "cantik", "sexy". Menurut saya sebagai literatur, Twilight bahkan sangat tidak mendidik para muda untuk berpikir jauh lebih dalam, menembus apa yang disebut sebagai kedangkalan fisik. Pelajaran moralnya memang ada, tapi kedangkalannya keburu membuat saya mual-mual dan gatal. Bella sendiri, dalam kalimat yang banyak tertuang di dalam buku selalu mengulang-ulang bahwa Edward memikatnya karena sosoknya yang rupawan, tampan, menawan. Seolah-olah pembaca tidak cukup pintar untuk berpikir, OK he's handsome, I got it, then what? Apakah serta merta akan jatuh cinta oleh apa yang diperhatikan oleh Bella dari diri Edward, jika ia tidaklah memiliki kualitas lain yang patut dibanggakan? (Yaaaaaaaaa, teriak wanita gua dalam diri saya dan beberapa teman wanita hehe)

Di negara barat tempat asal buku ini sendiri sudah banyak kritik yang dilontarkan. Seputar apakah sosok Bella Swan yang banyak diidolakan itu memang cocok untuk dipakai sebagai panutan. Adegan kelahiran putri Bella, Renesmee, bahkan menuai kritikan karena dianggap terlalu sadis. Bella Swan adalah sosok yang lemah, yang seolah tergantung pada Edrward, yang kebahagiaannya adalah apabila Edward bahagia. Kehamilan yang sangat berbahaya bagi nyawanyapun tetap ia jalani, dan adegannya memang digambarkan sangat kejam.
























Satu lagi yang menunjukkan kedangkalan pemikiran dari Bella Swan, adalah ia memandang bahwa Vampir adalah makhluk yang sangat hebat, memiliki superpower, rupawan, dan sebagainya. Dari jilid satu sampai empat rasa-rasanya tujuan hidupnya hanyalah menjadi ceweknya Edward dan yang kedua menjadi vampir seperti Edward. Ia cenderung egois, dan eksistensinya seolah hanya ditentukan apakah ada lelaki yang mencintai dirinya (Ketika Edward pergi, ia bisa bertahan dan tersenyum kembali setelah ada Jacob). Di jilid yang menggambarkan perubahan Bella menjadi vampir, oleh Meyer digambarkan seperti pion yang menjadi ratu. Rasa-rasanya kok menjadi ratu gara-gara gigitan dan menjadi vampir itu agak mengawang. Alih-alih memperkuat karakter yang kedodoran, Meyer membuat Bella Swan menjadi gadis biasa yang kejatuhan spell, mendadak vampir. Menggelikan.

I can keep going on and on, but yeah, I guess that's all. Intinya, baik buku dan filmnya bukanlah bandingan untuk literatur bermutu lain, namun kalau kau sedang kesepian dan butuh penghiburan romantis, melihat filmnya barangkali bisa jadi tambahan vitamin, mengingat Pattinson memang cakep, terlalu pucat tapi cakep. Tapi bukunya memang tidak terlalu menarik. Stephenie seharusnya berhenti saja setelah buku pertama atau kedua, sebab ia terkesan anya mengulang-ulang formula yang sama. Setelah Bella menjadi vampir, praktis sudah tidak ada lagi konflik yang berarti.

0-5 rate, saya beri 1,5 untuk bukunya, dan 2,5 untuk filmnya.

Aksinya lumayan menyenangkan, adegan favorit saya (barangkali juga favorit mayoritas) waktu Edward menggendong Bella ke pucuk pepohonan yang terlihat lebih asyik daripada saat Mary-Jane berayun bersama Spiderman. Dan yang lain adalah adegan saat Keluarga Cullen bermain baseball di puncak gunung dengan halilintar menyambar-nyambar. Asyik banget.

Mengapa cewek suka Twilight? (Tips buat cowok-cowok)

Label: ,

Wanita Gua dan Permasalahan Klasiknya

Saya mahasiswi berusia 22 tahun yang sedang menunggu sidang skripsi yang ditunda gara-gara profesor saya studi banding (baca: pelesir) ke Malaysia. Mengutip Andy Dufresne, "yang saya punya kini adalah waktu". Tapi barangkali minus semangat dan ketekunannya yang bisa membobol penjara.

Saya juga seorang wanita gua. Bukan wanita guanya Plato, karena barangkali pemikiran saya lebih duniawi ketimbang pure filosofis seperti cendekia Yunani kuno itu. Hidup di zaman saya sekarang sangat sulit, apalagi kalau seorang terlahir sebagai makhluk gua, yang akan saya jelaskan definisinya sebentar lagi. Seseorang dituntut untuk memiliki sesuatu yang spesial, sesuatu yang khusus, yang akan membedakannya dari milyaran umat manusia lain di muka bumi. Sebab kata seorang motivator kenamaan di negeri ini, seseorang dibedakan menurut kemampuannya melakukan apa yang orang lain tidak bisa lakukan. Sangat ambisius kan? Tapi barangkali kita lupa, bahwa setidaknya separuh jalan hidup kita sudah ditentukan sejak kita lahir, gen yang kita bawa, kebangsaan kita, dan berapa jumlah Mercedes atau BMW yang terparkir di garasi misalnya.

Terlahir di Amerika Serikat, tentu sampai tataran tertentu memberikan keuntungan bagi individu ketimbang misalnya jika ia terlahir di Somalia yang lapar atau Madagaskar yang sering perang saudara. Bahwa modal yang dimiliki orang-orang sejak awal telah berbeda sehingga sistem penilaian Tuhan pun pada akhirnya akan berbeda, sebab Dia adalah Yang Maha Adil kan? Perasaan saya nyaman dan melunak mendengar janji ini, namun terkadang sebagai manusia biasa saya pun terkadang merasa ragu, merasa bahwa apa yang dibangga-banggakan orang itu, warna kulit mereka, keindahan paras mereka, rekening bank mereka pada mulanya adalah dadu-dadu yang dilempar. Tidak pasti. Ada yang beruntung, ada yang buntung. Tentu saja apa yang dimaksud lewat "beruntung" dan "buntung" masih bisa diperdebatkan, tapi saya hanyalah manusia biasa.

Terlahir sebagai diri saya, kata yang tepat buat menggambarkannya adalah : setengah-setengah. Saya tidak sangat pintar-jenius (Newton, Einstein, Alfa Edison, Marie Curry, Shakespeare, Tolkien, Bill Gates). Saya tidak sangat cantik (Hepburn, Dian Satrowardoyo). Saya tidak sangat kaya (Paris Hilton, segala macam perseorangan pewaris trah keluarga kaya raya). Saya bahkan tidak cukup bodoh maupun sederhana untuk dapat menerima semua hal di atas tanpa protes. Mungkin akan ada orang yang berkata bahwa itu sudah sewajarnya, bahwa lebih banyak orang di dunia ini yang miskin adalah agar mereka bisa bekerja keras, bla bla, tapi coba pikir, einstein tidak akan jadi orang terpenting dalam sejarah kecendekiawanan abad 20 jika bukan karena otak yang ia miliki, atau Bill Gates tidak akan menjadi orang terkaya di dunia seandainya ia tidak memiliki otak itu. Paris Hilton tidak akan sehura-hura itu jika dia bukan seorang Hilton. "Otak" dan "Hilton" adalah modal. Dan suka atau tidak, modal penyertaan manusia berbeda-beda dalam skala yang luar biasa detail dan rumit khas Tuhan.

Saya tidak bermaksud menghujat apapun, hanya ingin mengatakan sebuah fakta, kenyataan yang menyesakkan dada saya saat saya sedang depresi gara-gara keterbatasan yang saya miliki karena menjadi setengah-setengah dan bukannya menjadi yang "sangat". Saya pikir ini manusiawi, dan menunjukkan bahwa saya hanyalah manusia biasa dengan segala kekurangan maupun kelebihan yang saya miliki. Sebagian besar waktu saya dapat berfungsi sebagaimana orang berakal dan nrimo ing pandum. Tapi tentu saja ada waktunya saya mengalami breakdown, dan menyuruk jauh ke dalam gua yang nyaman.

Ini seperti menara dari kartu, yang akan berjatuhan bila disenggol oleh kartu lainnya. Menjadi yang setengah-setengah berarti saya menjadi pribadi yang agak kaku. Barangkali saya orang yang populer dalam pergaulan dengan rekan-rekan, dengan pribadi yang ceria, sejarah akademis yang memuaskan (walau bukan luar biasa), namun tetap saja saya merasa kesepian. Ada kalanya saya merasa jatuh dan rendah diri, tidak ingin keluar rumah (gua) karena tidak punya pakaian yang pantas, tidak mampu berangkat kuliah karena tidak mampu menghadapi tatapan orang-orang yang menghakimi. Dalam hal percintaan, saya layaknya balita yang baru belajar berjalan. Sejarah romantis saya sangat menyedihkan, base pertama saja belum pernah saya capai, apapun base satu itu. Ya, separah itu. Ketimbang berusaha meresikokan hati saya di dalam genggaman orang lain, saya senang berada di tempat saya sekarang, di ketinggian dan sendirian (gua).

Saya paham bahwa ini adalah permasalahan kompleks yang barangkali juga terkait bagaimana masa lalu membentuk saya, atau karakter saya sendiri, atau hal-hal eksternal lainnya. Namun apa yang saya rasakan adalah sesuatu yang nyata, dan karenanya saya ingin menciptakan sebuah kelegaan bahwa di dunia ini saya tidak sendiri, bahwa di dalam gua saya tidaklah sendirian, melainkan beramai-ramai, karena menurut hemat saya, setiap orang di dunia ini, setiap wanita pasti pernah mengalami satu atau dua gejala wanita gua, bahkan seorang supermodel sekalipun. Sungguh klasik, sebab itu saya tidak akan merasa malu bahkan untuk mencurahkan perasaan terdalam mengenai segala hal, rasa iri, dengki, kebencian, yang selamanya hanya akan berada di otak kecil saya yang bersalah.

Semoga kebahagiaan dan kedamaian selalu tercurah bagi para wanita gua, di manapun kalian semua berada!

Label: ,