Blogito Ergo Sum, Saya Ngeblog Maka Saya Ada

Label: blogging
Para wanita gua, duduklah melingkar, api unggun telah dinyalakan. Cahaya luar yang menyilaukan itu, suatu saat akan memanggil kita juga. Bayangkan dirimu ada di antaranya, di bawah terpaan matahari dan desau angin. Sampai saat itu tiba, marilah kita berdoa.

Cavewoman adalah saya. Di dalam gua, duduk seorang diri terkurung oleh kegelapan. Saya adalah seorang wanita yang mengutarakan hal-hal yang ada dalam benak, dan apa yang saya maui. Kelak saya akan keluar dari gua, menjadi orang biasa, melahirkan anak-anak saya dan membentuk keluarga yang luar biasa. Pasti.

Label: blogging

Label: earth hour, global warming, things to think

Label: things to think
Linda Howard adalah nama pena dari penulis berkebangsaan Amerika Serikat, Linda Howington. Buku pertamanya yang saya baca adalah Almost Forever yang judul terjemahannya kurang begitu saya ingat. Kesan yang saya dapat setelah membacanya, adalah saya begitu terpikat oleh dinamik antara Max Benedict dan Claire, yang berbeda dan belum pernah saya dapatkan setelah membaca roman Harlequin manapun. Sosok Max benar-benar memengaruhi saya berjam-jam pada malam harinya setelah saya selesai membaca, dan bahkan membuat saya membaca ulang seluruh buku itu, walaupun saya belum pernah melakukannya sebelumnya. Oh ya, saya menyukai kisah-kisah roman Harlequin, ada masanya ketika saya selalu berburu buku baru di persewaan, namun entah kenapa selalu saja ada yang off, atau tidak pada tempatnya dalam benak saya. Entah ceritanya terlalu klise, tokoh utama wanitanya kurang berkarakter, hero yang kelewat menyebalkan, jalan cerita yang terlalu lambat dan membosankan, dan bahkan cerita yang agak sensitif. Misalnya Sandra Brown, karya yang pertama saya baca sekaligus menjadi favorit saya setelahnya, judulnya saya lupa tapi bersampul biru atau ungu tua dengan tokoh utama bernama Marnie dan tokoh pria seorang mantan astronot. Saya tidak tahu pendapat orang-orang lain, tapi walaupun secara umum saya suka cerita itu (harlequin pertama, sehingga ada semacam keterikatan emosional) tapi saya tidak nyaman membacanya. Sandra Brown senang sekali memakai kisah adik perempuan yang suka kekasih kakak perempuannya, atau yang lebih menyebalkan anak perempuan yang suka kekasih ibunya. Hiiee!
Dari Almost Forever saya seperti diarahkan untuk membaca Sarah’s Child. Almost Forever adalah sekuel, sehingga dengan mudah saya masuk dan meresapi cerita tentang Buah Hati Sarah. OHO, tidak perlu dikatakan lagi, semenjak itu saya kecanduan Linda Howard, berusaha mencari bukunya yang lain lagi, tapi setelah Heartbreaker dan White Lies tidak ketemu yang lainnya. Saya patah hati. Barulah bertahun-tahun kemudian, saya melihat judul baru, dan lupa sama sekali kalau penulisnya adalah salah satu yang paling saya gemari: After the Night, alias Menanti Fajar. Sejak halaman pertama rasa-rasanya seluruh tubuh dan pikiran saya tersedot ke dalam pusaran cerita, menghempaskan saya ke kiri dan ke kanan bersama Faith Devlin, gadis buangan yang bangkit dari kubangan sampah. Deskripsi Howard benar-benar membuat saya takjub, sangat detail dan hingga sesaat saya lupa kalau itu adalah genre harlequin yang seharusnya tidak perlu sebagus itu (hei, salahkan saya yang sinis ini). Kalau ada tokoh utama Harlequin yang saya paling ingin menjadi dirinya, tentu saja itu Faith Devlin Hardy atau Rouillard, whatever. Membayangkan menjadi objek gairah pria yang digambarkan oleh Howard sebagai pria yang kokoh bagai batu karang, dengan perangai mirip bajak laut, tinggi besar, memancarkan gairah dari setiap sel-sel tubuhnya… WHOOOOOOOOOOO! (Kamu mengerti perasaan saya
Sebenarnya apa formula yang dipunyai Linda Howard yang membuatnya memiliki basis fans yang sangat setia dan bahkan cenderung bonek (saya)? Ia menulis mulai dari kisah pemilik ranch, perawan yang mencintai biilionaire, peramal, detektif dari masa depan, staf keuangan bermulut kotor, hingga pemilik pusat kebugaran. Tokoh-tokohnya bervariasi, dengan laki-laki yang juga sangat bervariasi, tapi saya dengan mudah dapat menarik benang merah yang menjadi persamaan seluruh kisah-kisah Howard (setidaknya yang sudah diterbitkan Gramedia, namun saya berani bertaruh kisah yang lain pun pasti sama, perut saya mulas hanya dengan membicarakannya!!!). Apa itu?
“I think for it to be real (romance writers) absolutely have to love men to begin with. I do – I think they’re wonderful creatures. I think every thinking woman should own one,” kata Linda Howard dalam sebuah wawancara.
Dan memang tampak jelas kecintaan Howard pada para pria dalam bukunya. Siapa yang tidak terpesona oleh pria macam Dane Hollister, Sam Donovan, John Rafferty, Max Benedict, Gray Rouillard, Rome Matthews, mereka semua adalah pria alpha to the max, dalam artian pria yang nyaris sempurna. Mereka adalah pria yang ada pada puncak evolusi
1. Ciri khas tokoh utama pria yang berbeda dari buku karangan penulis lain
Karakteristik itu antara lain:
- Pria-Pria Howard barangkali playboy, arogan, dan pernah tidur dengan banyak wanita, tapi dia sangat setia pada heroine yang dipasangkan dengannya. Ini adalah syarat wajib seorang hero buatan LH. Itu barangkali bisa disebabkan karena ia belum pernah jatuh cinta sebelumnya, dan mencintai sang tokoh utama wanita seringkali menjadi hal yang tidak disukainya, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa buat mengendalikannya. Sehingga mau tidak mau ia terpaksa harus mengakuinya kalau tidak mau kehilangan wanita miliknya. Jadi tidak mungkin ada kasus cinta segi tiga di mana Dane Hollister ternyata pacar saudara perempuannya Marnie, dsb, oh please)
- Sangat, sangat, sangat menggairahkan. Dengan fisik yang sempurna dan prima, pria-pria Howard benar benar pria impian setiap wanita. Sepertinya naluri biologis mereka adalah untuk menghamili sebanyak mungkin wanita di muka bumi, tapi entah kenapa (kadang mereka sendiri bahkan tidak menyadari maupun menyukai hal ini) ia hanya bisa melakukannya dan mencintai terhadap satu orang wanita saja. Hasrat seksualnya akan tertuju pada satu orang itu saja.
- Sangat, sangat, sangat posesif. Pria Howard selalu ingin melindungi dan menjaga wanita milik mereka. Laki-laki lain yang mendekati wilayah mereka harus siap menghadapi amukan dan kemarahan pria-yang luar biasa menakutkan. (Ex:
2. Ciri khas tokoh utama wanita
Saya tidak tahu buku-bukunya yang lebih lama, tapi dari buku-buku yang diterbitkan di sini, saya melihat semakin lama para heroine dari Linda Howard menjadi semakin independen dan percaya diri. (Ex: bandingkan Jane Bright dengan Evangeline dari Loving Evangeline).
3. Sex scene yang luar biasa
Dalam banyak board diskusi tentang buku-buku roman, adegan seks buatan Linda Howard selalu disebutkan. Banyak yang menganggap bahwa LH menuliskan adegan percintaan yang efektif, yang terkadang bahkan sangat keras dan kasar atas nama kebutuhan untuk selalu bersentuhan yang sangat menarik buat dibaca. Saya berpendapat bahwa adegan percintaan dalam buku-buku LH cenderung bersumber dari sudut pandang dan keputus-asaan gairah si lelaki, yang membuatnya terasa lebih keras menghentak, yang menjadikan bukunya berbeda dari pengarang lain. Cowok-cowok Howard adalah tipe pemburu yang selalu mengejar dan membutuhkan wanita tertentu di sisinya, membayangkan diri saya menjadi fokus dari tipe intensitas itu membuat jantung saya berdebar-debar. (mendesah)
4. Dinamitas hubungan yang di luar pakem
Poin keempat ini adalah tribute buat After the Night, di mana Howard mendobrak pakem dengan menciptakan dua karakter utama yang tidak biasa. Faith Devlin berada di atas rata-rata heroine dalam kisah Harlequin. Ia adalah gadis yang tidak kenal takut, cerdas, luar biasa cantik, puritan, namun benar-benar independen. Sedangkan Gray Rouillard barangkali adalah sosok hero yang sedikit keluar jalur dari pakem tokoh utama pria, walaupun tentu saja tidak meninggalkan kaidah karakteristik tokoh pria di atas. Ia barangkali adalah satu-satunya tokoh utama pria Harlequin yang berkarakter kejam. Banyak pembaca mengeluh mereka tidak bisa memaafkan perlakuan Gray, bahwa Faith terlalu cepat memaafkan pria itu, walaupun tentu saja kita sepenuhnya memahami alasannya. Selain Gray beberapa karakter Howard juga sedikit melampaui batas, seperti perlakuan Rome Matthews pada Sarah yang membuat kita menangis. Tapi semua itu menjadikan mereka lebih spesial.
5. Plot
Banyak orang beranggapan membaca harlequin tidak perlu memperhatikan plot. Tapi buku-buku terbaru LH mempunyai plot aktual yang cukup menegangkan dan menarik untuk dibaca. Sepertinya kesukaannya yang terbaru adalah menulis roman suspense, dengan ketegangan dan misteri yang harus dipecahkan. Jangan membayangkan Agatha Christie atau Sidney Sheldon tentu saja, tapi memang cukup membosankan kalau kita hanya membaca kisah cinta sekretaris dengan bosnya tanpa plot yang berarti. Setidaknya jika mereka nekad melakukannya tanpa plot yang memuncak, kedua tokoh utamanya harus benar-benar kuat, tapi biasanya gagal.
DONE. Seandainya saya bisa menjadi heroine dalam sebuah buku, maka saya akan memilih menjadi Faith Devlin. Kalau kamu belum membaca After the Night, maka kamu belumlah sepenuhnya melek Harlequin. Hehehe.
Kalau saya membayangkan seperti apa ya cowok Linda Howard itu, barangkali yang seperti cowok yang dipakai dalam pemotretan ini:
Atau mungkin malah gay? Hmh memang karakter fiksi dalam benak kita susah kalau mau diterjemahkan dalam kehidupan nyata. Tapi memang yumm.

Label: babbles of a lifetime, harlequin, linda howard, review
“Seandainya saya seorang laki-laki,” rintih Beyonce dalam lagunya yang indah itu. Sejak dulu hingga sekarang, masalah gender adalah salah satu yang paling sering dibicarakan, diperdebatkan, difilmkan, dinyanyikan, diberitakan, ditulis, dibicarakan, dan bahkan hingga sekarang, ketika semakin memudarnya era para feminis radikal (yang beranggapan bahwa para pria hanya berharga karena sperma yang mereka miliki), nyatanya di era masa kini semakin bermunculan wanita-wanita independen yang mendobrak tradisi. Mereka telah menginjak kepala tiga akhir, single, dan mempunyai penghasilan sendiri yang bisa menyokong
Saya membayangkan diri saya yang laki-laki, memandang dunia ini dari ketinggian yang berbeda, mungkin 20 senti lebih tinggi dari biasanya. Mengenakan celana dalam pria, menjadi testosteron berjalan, dengan tubuh yang kuat dan kekar dan sesuatu yang terasa berbeda di balik celana. Mungkin saya akan mengenakan kemeja, jas, dan dasi hanya karena sangat ingin menghayatinya, menemui kekasih saya di restoran untuk melamarnya. Saya bertanya-tanya apa yang akan saya pikirkan pada saat itu. Akankah saya tipe nomaden seperti Denysnya Karen, ataukah pemurung, ataukah setia, ataukah sebaliknya, ataukah seksis, ataukah tipe yang menyenangkan dan protektif. Apakah saya mampu membuat perbedaan yang walaupun kecil namun sangat berarti bagi kekasih saya, atau wanita bakal kekasih saya, atau hell, belahan jiwa yang bahkan belum pernah saya temui.
Seandainya saja saya ini seorang laki-laki, maka saya akan membuat perbedaan. “I’ll listen to her,” kata Beyonce, menjadi pria yang dapat diandalkan dan dipercaya. Karena seorang teman saya pernah berkata dengan penuh keyakinan, “Harga diri seorang laki-laki ada pada komitmennya.” Saya meyakininya juga, sebab seorang pria dengan lidah plin-plan barangkali juga membuat saya kepingin menonjok mukanya juga.
Seandainya saya seorang pria, pria yang sempurna, maka kualitas yang seharusnya ada pada diri saya adalah:
Kesetiaan
Komitmen
Kasih sayang
Gairah
Kepercayaan Diri
Integritas
Kecerdasan
Beberapa teman saya berkata bahwa mungkin kekasih yang sempurna hanyalah bila seorang pria bukanlah pria, tapi wanita yang mampu mengerti dan memahami perasaan mereka. Saya pernah bereksperimen dengan menyamar sebagai seorang laki-laki, dengan chat bersama teman-teman cewek, dan rata-rata mereka terpesona oleh sosok imajiner yang saya tampilkan, mengatakan bahwa dia adalah cowok yang tidak akan segan-segan mereka pacari. Begitu mempesona dan penuh pengertian, memberikan komentar yang tepat di saat yang tepat, dan mendengarkan saat waktunya mendengar, tidak pernah menyudutkan dan menggurui. Saya berpikir mungkin barangkali saya memang yang paling memiliki sifat kelelaki-lakian di antara teman-teman. Bahkan nama yang diberikan buat saya pun bukan nama lazim buat perempuan. Tapi sudahlah, barangkali itulah sebabnya para pria begitu menarik. Toh saat mengetahui bahwa dengan sayalah teman-teman chat selama ini membuat mereka agak berang. Katanya saya merusak mimpi mereka, dan menambah keyakinan kalau di luar
“Coz you’re just a boy, you don’t understand.”
Label: babbles of a lifetime, things to think
Saya membayangkan ketegangan dan kenikmatan saat membaca buku itu, seperti The Lord of The Rings tetap memikat saya walaupun telah melihat filmnya, tapi memang salah saya sendiri membandingkan Tolkien dengan siapapun. Standardnya terlalu tinggi. Buku itu penuh dengan kalimat yang diulang-ulang dan terkesan sangat dangkal. Mulai dari penulisannya, hingga karakter tokoh-tokohnya, bahkan sang tokoh utama. Pesona Bella Swan, ketimbang berlandaskan kekuatan karakter yang sanggup membuat kita berpikir kalau dia ada dan nyata di suatu tempat, merasakan apa yang ia rasakan, melihat apa yang dia lihat, seperti Jean-Louise (Scout) Finch dalam To Kill a Mockingbird, Margaret dalam Are You There God? It's me Margaret, lebih berlandaskan kelebihan dan hal-hal yang sifatnya magis. Pada mulanya ia nobody dan sekonyong-konyong para pria dan vampir berebut ingin mendapat perhatiannya. Seperti mengapa Edward mencintainya, atau mula-mula tertarik padanya bukanlah berdasarkan karakter Bella sendiri, melainkan karena aroma dan keperawanannya, yang membuat sang vampir mabuk. Lantas apa bedanya hal semacam itu, dengan misalnya seorang pria memilih kekasih karena ceweknya "hot", "cantik", "sexy". Menurut saya sebagai literatur, Twilight bahkan sangat tidak mendidik para muda untuk berpikir jauh lebih dalam, menembus apa yang disebut sebagai kedangkalan fisik. Pelajaran moralnya memang ada, tapi kedangkalannya keburu membuat saya mual-mual dan gatal. Bella sendiri, dalam kalimat yang banyak tertuang di dalam buku selalu mengulang-ulang bahwa Edward memikatnya karena sosoknya yang rupawan, tampan, menawan. Seolah-olah pembaca tidak cukup pintar untuk berpikir, OK he's handsome, I got it, then what? Apakah serta merta akan jatuh cinta oleh apa yang diperhatikan oleh Bella dari diri Edward, jika ia tidaklah memiliki kualitas lain yang patut dibanggakan? (Yaaaaaaaaa, teriak wanita gua dalam diri saya dan beberapa teman wanita hehe)
Label: babbles of a lifetime, things to think