Wanita Gua dan Permasalahan Klasiknya
Saya mahasiswi berusia 22 tahun yang sedang menunggu sidang skripsi yang ditunda gara-gara profesor saya studi banding (baca: pelesir) ke Malaysia. Mengutip Andy Dufresne, "yang saya punya kini adalah waktu". Tapi barangkali minus semangat dan ketekunannya yang bisa membobol penjara.
Saya juga seorang wanita gua. Bukan wanita guanya Plato, karena barangkali pemikiran saya lebih duniawi ketimbang pure filosofis seperti cendekia Yunani kuno itu. Hidup di zaman saya sekarang sangat sulit, apalagi kalau seorang terlahir sebagai makhluk gua, yang akan saya jelaskan definisinya sebentar lagi. Seseorang dituntut untuk memiliki sesuatu yang spesial, sesuatu yang khusus, yang akan membedakannya dari milyaran umat manusia lain di muka bumi. Sebab kata seorang motivator kenamaan di negeri ini, seseorang dibedakan menurut kemampuannya melakukan apa yang orang lain tidak bisa lakukan. Sangat ambisius kan? Tapi barangkali kita lupa, bahwa setidaknya separuh jalan hidup kita sudah ditentukan sejak kita lahir, gen yang kita bawa, kebangsaan kita, dan berapa jumlah Mercedes atau BMW yang terparkir di garasi misalnya.
Terlahir di Amerika Serikat, tentu sampai tataran tertentu memberikan keuntungan bagi individu ketimbang misalnya jika ia terlahir di Somalia yang lapar atau Madagaskar yang sering perang saudara. Bahwa modal yang dimiliki orang-orang sejak awal telah berbeda sehingga sistem penilaian Tuhan pun pada akhirnya akan berbeda, sebab Dia adalah Yang Maha Adil kan? Perasaan saya nyaman dan melunak mendengar janji ini, namun terkadang sebagai manusia biasa saya pun terkadang merasa ragu, merasa bahwa apa yang dibangga-banggakan orang itu, warna kulit mereka, keindahan paras mereka, rekening bank mereka pada mulanya adalah dadu-dadu yang dilempar. Tidak pasti. Ada yang beruntung, ada yang buntung. Tentu saja apa yang dimaksud lewat "beruntung" dan "buntung" masih bisa diperdebatkan, tapi saya hanyalah manusia biasa.
Terlahir sebagai diri saya, kata yang tepat buat menggambarkannya adalah : setengah-setengah. Saya tidak sangat pintar-jenius (Newton, Einstein, Alfa Edison, Marie Curry, Shakespeare, Tolkien, Bill Gates). Saya tidak sangat cantik (Hepburn, Dian Satrowardoyo). Saya tidak sangat kaya (Paris Hilton, segala macam perseorangan pewaris trah keluarga kaya raya). Saya bahkan tidak cukup bodoh maupun sederhana untuk dapat menerima semua hal di atas tanpa protes. Mungkin akan ada orang yang berkata bahwa itu sudah sewajarnya, bahwa lebih banyak orang di dunia ini yang miskin adalah agar mereka bisa bekerja keras, bla bla, tapi coba pikir, einstein tidak akan jadi orang terpenting dalam sejarah kecendekiawanan abad 20 jika bukan karena otak yang ia miliki, atau Bill Gates tidak akan menjadi orang terkaya di dunia seandainya ia tidak memiliki otak itu. Paris Hilton tidak akan sehura-hura itu jika dia bukan seorang Hilton. "Otak" dan "Hilton" adalah modal. Dan suka atau tidak, modal penyertaan manusia berbeda-beda dalam skala yang luar biasa detail dan rumit khas Tuhan.
Saya tidak bermaksud menghujat apapun, hanya ingin mengatakan sebuah fakta, kenyataan yang menyesakkan dada saya saat saya sedang depresi gara-gara keterbatasan yang saya miliki karena menjadi setengah-setengah dan bukannya menjadi yang "sangat". Saya pikir ini manusiawi, dan menunjukkan bahwa saya hanyalah manusia biasa dengan segala kekurangan maupun kelebihan yang saya miliki. Sebagian besar waktu saya dapat berfungsi sebagaimana orang berakal dan nrimo ing pandum. Tapi tentu saja ada waktunya saya mengalami breakdown, dan menyuruk jauh ke dalam gua yang nyaman.
Ini seperti menara dari kartu, yang akan berjatuhan bila disenggol oleh kartu lainnya. Menjadi yang setengah-setengah berarti saya menjadi pribadi yang agak kaku. Barangkali saya orang yang populer dalam pergaulan dengan rekan-rekan, dengan pribadi yang ceria, sejarah akademis yang memuaskan (walau bukan luar biasa), namun tetap saja saya merasa kesepian. Ada kalanya saya merasa jatuh dan rendah diri, tidak ingin keluar rumah (gua) karena tidak punya pakaian yang pantas, tidak mampu berangkat kuliah karena tidak mampu menghadapi tatapan orang-orang yang menghakimi. Dalam hal percintaan, saya layaknya balita yang baru belajar berjalan. Sejarah romantis saya sangat menyedihkan, base pertama saja belum pernah saya capai, apapun base satu itu. Ya, separah itu. Ketimbang berusaha meresikokan hati saya di dalam genggaman orang lain, saya senang berada di tempat saya sekarang, di ketinggian dan sendirian (gua).
Saya paham bahwa ini adalah permasalahan kompleks yang barangkali juga terkait bagaimana masa lalu membentuk saya, atau karakter saya sendiri, atau hal-hal eksternal lainnya. Namun apa yang saya rasakan adalah sesuatu yang nyata, dan karenanya saya ingin menciptakan sebuah kelegaan bahwa di dunia ini saya tidak sendiri, bahwa di dalam gua saya tidaklah sendirian, melainkan beramai-ramai, karena menurut hemat saya, setiap orang di dunia ini, setiap wanita pasti pernah mengalami satu atau dua gejala wanita gua, bahkan seorang supermodel sekalipun. Sungguh klasik, sebab itu saya tidak akan merasa malu bahkan untuk mencurahkan perasaan terdalam mengenai segala hal, rasa iri, dengki, kebencian, yang selamanya hanya akan berada di otak kecil saya yang bersalah.
Semoga kebahagiaan dan kedamaian selalu tercurah bagi para wanita gua, di manapun kalian semua berada!
Saya juga seorang wanita gua. Bukan wanita guanya Plato, karena barangkali pemikiran saya lebih duniawi ketimbang pure filosofis seperti cendekia Yunani kuno itu. Hidup di zaman saya sekarang sangat sulit, apalagi kalau seorang terlahir sebagai makhluk gua, yang akan saya jelaskan definisinya sebentar lagi. Seseorang dituntut untuk memiliki sesuatu yang spesial, sesuatu yang khusus, yang akan membedakannya dari milyaran umat manusia lain di muka bumi. Sebab kata seorang motivator kenamaan di negeri ini, seseorang dibedakan menurut kemampuannya melakukan apa yang orang lain tidak bisa lakukan. Sangat ambisius kan? Tapi barangkali kita lupa, bahwa setidaknya separuh jalan hidup kita sudah ditentukan sejak kita lahir, gen yang kita bawa, kebangsaan kita, dan berapa jumlah Mercedes atau BMW yang terparkir di garasi misalnya.
Terlahir di Amerika Serikat, tentu sampai tataran tertentu memberikan keuntungan bagi individu ketimbang misalnya jika ia terlahir di Somalia yang lapar atau Madagaskar yang sering perang saudara. Bahwa modal yang dimiliki orang-orang sejak awal telah berbeda sehingga sistem penilaian Tuhan pun pada akhirnya akan berbeda, sebab Dia adalah Yang Maha Adil kan? Perasaan saya nyaman dan melunak mendengar janji ini, namun terkadang sebagai manusia biasa saya pun terkadang merasa ragu, merasa bahwa apa yang dibangga-banggakan orang itu, warna kulit mereka, keindahan paras mereka, rekening bank mereka pada mulanya adalah dadu-dadu yang dilempar. Tidak pasti. Ada yang beruntung, ada yang buntung. Tentu saja apa yang dimaksud lewat "beruntung" dan "buntung" masih bisa diperdebatkan, tapi saya hanyalah manusia biasa.
Terlahir sebagai diri saya, kata yang tepat buat menggambarkannya adalah : setengah-setengah. Saya tidak sangat pintar-jenius (Newton, Einstein, Alfa Edison, Marie Curry, Shakespeare, Tolkien, Bill Gates). Saya tidak sangat cantik (Hepburn, Dian Satrowardoyo). Saya tidak sangat kaya (Paris Hilton, segala macam perseorangan pewaris trah keluarga kaya raya). Saya bahkan tidak cukup bodoh maupun sederhana untuk dapat menerima semua hal di atas tanpa protes. Mungkin akan ada orang yang berkata bahwa itu sudah sewajarnya, bahwa lebih banyak orang di dunia ini yang miskin adalah agar mereka bisa bekerja keras, bla bla, tapi coba pikir, einstein tidak akan jadi orang terpenting dalam sejarah kecendekiawanan abad 20 jika bukan karena otak yang ia miliki, atau Bill Gates tidak akan menjadi orang terkaya di dunia seandainya ia tidak memiliki otak itu. Paris Hilton tidak akan sehura-hura itu jika dia bukan seorang Hilton. "Otak" dan "Hilton" adalah modal. Dan suka atau tidak, modal penyertaan manusia berbeda-beda dalam skala yang luar biasa detail dan rumit khas Tuhan.
Saya tidak bermaksud menghujat apapun, hanya ingin mengatakan sebuah fakta, kenyataan yang menyesakkan dada saya saat saya sedang depresi gara-gara keterbatasan yang saya miliki karena menjadi setengah-setengah dan bukannya menjadi yang "sangat". Saya pikir ini manusiawi, dan menunjukkan bahwa saya hanyalah manusia biasa dengan segala kekurangan maupun kelebihan yang saya miliki. Sebagian besar waktu saya dapat berfungsi sebagaimana orang berakal dan nrimo ing pandum. Tapi tentu saja ada waktunya saya mengalami breakdown, dan menyuruk jauh ke dalam gua yang nyaman.
Ini seperti menara dari kartu, yang akan berjatuhan bila disenggol oleh kartu lainnya. Menjadi yang setengah-setengah berarti saya menjadi pribadi yang agak kaku. Barangkali saya orang yang populer dalam pergaulan dengan rekan-rekan, dengan pribadi yang ceria, sejarah akademis yang memuaskan (walau bukan luar biasa), namun tetap saja saya merasa kesepian. Ada kalanya saya merasa jatuh dan rendah diri, tidak ingin keluar rumah (gua) karena tidak punya pakaian yang pantas, tidak mampu berangkat kuliah karena tidak mampu menghadapi tatapan orang-orang yang menghakimi. Dalam hal percintaan, saya layaknya balita yang baru belajar berjalan. Sejarah romantis saya sangat menyedihkan, base pertama saja belum pernah saya capai, apapun base satu itu. Ya, separah itu. Ketimbang berusaha meresikokan hati saya di dalam genggaman orang lain, saya senang berada di tempat saya sekarang, di ketinggian dan sendirian (gua).
Saya paham bahwa ini adalah permasalahan kompleks yang barangkali juga terkait bagaimana masa lalu membentuk saya, atau karakter saya sendiri, atau hal-hal eksternal lainnya. Namun apa yang saya rasakan adalah sesuatu yang nyata, dan karenanya saya ingin menciptakan sebuah kelegaan bahwa di dunia ini saya tidak sendiri, bahwa di dalam gua saya tidaklah sendirian, melainkan beramai-ramai, karena menurut hemat saya, setiap orang di dunia ini, setiap wanita pasti pernah mengalami satu atau dua gejala wanita gua, bahkan seorang supermodel sekalipun. Sungguh klasik, sebab itu saya tidak akan merasa malu bahkan untuk mencurahkan perasaan terdalam mengenai segala hal, rasa iri, dengki, kebencian, yang selamanya hanya akan berada di otak kecil saya yang bersalah.
Semoga kebahagiaan dan kedamaian selalu tercurah bagi para wanita gua, di manapun kalian semua berada!
Label: babbles of a lifetime, things to think


0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda