Wanita Gua dan Permasalahan Klasiknya

Para wanita gua, duduklah melingkar, api unggun telah dinyalakan. Cahaya luar yang menyilaukan itu, suatu saat akan memanggil kita juga. Bayangkan dirimu ada di antaranya, di bawah terpaan matahari dan desau angin. Sampai saat itu tiba, marilah kita berdoa.

Foto Saya
Nama:
Lokasi: Solo, Jawa Tengah, Indonesia

Cavewoman adalah saya. Di dalam gua, duduk seorang diri terkurung oleh kegelapan. Saya adalah seorang wanita yang mengutarakan hal-hal yang ada dalam benak, dan apa yang saya maui. Kelak saya akan keluar dari gua, menjadi orang biasa, melahirkan anak-anak saya dan membentuk keluarga yang luar biasa. Pasti.

Senin, 30 November 2009

Loving the Imperfect Me

Kadang saya bertanya apa yang menyebabkan saya masih juga tidak mempunyai pacar di umur saya yang 22 tahun ini. Apakah karena diri ini yang tidak sempurna? Apakah karena diri ini yang kurang cantik di mata para lelaki?

Saya seperti ganggang yang mengapung maju, mundur, namun takut untuk benar-benar melepaskan diri ke dalam rengkuhan ombak. Mungkin ini aman, sebab saya tidak akan terhempas ke mana-mana. Tapi rasanya sepi.

Saya tahu diri saya tidak sempurna, dan karena tidak ada orang yang sempurna di dunia ini, maka saya tidak akan menemukan orang yang sempurna. Oh, saya tahu jelas premis klise, bahwa orang menjadi sempurna di mata kekasihnya karena cinta membuat ketidak sempurnaannya menjadi sempurna (belibet, hehe). Namun tahu bukan berarti mendapat kemudahan untuk melakukannya.

Selama ini saya selalu melihat diri saya di cermin, bagian-bagian tubuh saya dengan kritis. Mata saya tidak memiliki lipatan kelopak, hidung yang terlalu pesek, gigi dan gusi makhluk zaman prasejarah (besar-besar dan maju), wajah yang kotak, dada yang bundar dan melorot, perut yang buncit, kulit hitam, rambut kasar, kaki yang besar dan tidak rapi, perpaduan yang sempurna untuk penampakan aneh dalam lembaran foto.

Saya tidak suka melihat wajah saya sendiri di foto. Barangkali itu juga yang dirasakan oleh ibu saya, sehingga jarang ada foto masa kecil di rumah. Jika beruntung mendapatkan jepretan dengan angle tepat, dan wajah troll saya jadi kelihatan menarik baru saya akan menyimpannya. Tidak separah fobia, tapi jelas saya kurang suka difoto, berbeda dengan katakanlah, beberapa orang teman saya yang banci kamera, maupun adik perempuan saya yang selalu terlihat cantik dan molek dalam foto.

Foto di atas adalah foto kaki saya. Ini mungkin foto paling jujur tentang diri saya yang bisa saya publish. Kaki saya tidak indah, dan perlu pencarian berjam-jam di toko sebelum menemukan sandal atau sepatu yang tidak tampak menggelikan saat saya pakai. Beberapa teman saya memiliki kaki yang molek, yang lain berkulit seputih susu sehingga ketidakmolekan apapun menjadi terbayar.

Saya akui, dengan berkata seperti itu, saya menjadi orang yang tidak bersyukur. Tapi barangkali saya adalah orang yang paling bersyukur juga. Sebab saya sadar dengan pasti bahwa banyak orang yang harus lebih struggle dengan keterbatasan yang lebih dalam sifatnya ketimbang sekedar tingkat kemolekan. Tapi jujur saja, hidup akan lebih mudah jika kita lahir dengan wajah cantik dan tubuh indah. Atau dalam kasus orang-orang cacat, jika tubuh mereka normal.

Saya menghadapi musuh di dalam diri saya yang tidak bisa berhenti mengkritik dan menunjukkan kekurangan yang saya miliki. Dan entah bagaimana (Freud jelaskan pada saya), tahu-tahu saya selalu mengkritisi laki-laki yang mendekat. Kurang tinggi, kurang cerdas, terlalu dominan, hingga alasan irrasional seperti membuat ilfil. Sebenarnya sosok laki-laki seperti apakah yang saya maui?

Jika cowok seterkenal Valentino Rossi mengaku cinta, atau setampan Johny Depp, atau seseksi Lleyton Hewitt datang dan membawakan saya bunga sambil berkata, “I Love You, Poundra,” apakah saya bakal luluh? Mungkin. Saya akui itu memang fantasi siang bolong cewek bodoh seperti saya. Tapi menilik sejarah, mungkin saya akan menemukan lagi kekurangan dalam diri mereka, mungkin saya akan berkata, “Maaf, kamu terlalu terkenal,” pada Rossi, dan variasi kata sifat yang berbeda pada cowok-cowok di atas.

Saya berumur 22 tahun, dan masih baik-baik saja sendirian tanpa pasangan. Tapi saya akui kalau lama-kelamaan rasanya sepi.

“Sebelum kamu ingin orang mencintaimu, cintailah dirimu sendiri terlebih dahulu”, barangkali adalah frasa yang tepat. Saya harus menerima diri ini apa adanya, mencintai apa yang saya punya. Dan itu adalah perjalanan yang panjang sebelum saya bisa sampai di sana. Tapi rasa-rasanya jari-jari kaki saya yang melengkung dan megar berteriak-teriak ingin saya cintai. Dan sebaiknya saya tidak mengecewakan mereka.

Dicari:

Cowok yang senang mencium, menyukai jari-jari kaki saya sebagaimana adanya, senang membaca, pas benar di sisi saya, menyukai selera humor saya yang garing, mencintai saya dengan sepenuh hatinya.


Label:

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda