Wanita Gua dan Permasalahan Klasiknya

Para wanita gua, duduklah melingkar, api unggun telah dinyalakan. Cahaya luar yang menyilaukan itu, suatu saat akan memanggil kita juga. Bayangkan dirimu ada di antaranya, di bawah terpaan matahari dan desau angin. Sampai saat itu tiba, marilah kita berdoa.

Foto Saya
Nama:
Lokasi: Solo, Jawa Tengah, Indonesia

Cavewoman adalah saya. Di dalam gua, duduk seorang diri terkurung oleh kegelapan. Saya adalah seorang wanita yang mengutarakan hal-hal yang ada dalam benak, dan apa yang saya maui. Kelak saya akan keluar dari gua, menjadi orang biasa, melahirkan anak-anak saya dan membentuk keluarga yang luar biasa. Pasti.

Jumat, 27 Maret 2009

If I Were A Boy

Seandainya saya terlahir laki-laki. Saya tahu, saya tahu. Dalam agama seseorang tidak boleh berkata “seandainya”. Tapi saya juga sama yakinnya bahwa Tuhan menciptakan otak yang sedemikian luar biasa buat kita manusia ini, dan imajinasi yang diproduksinya bukan untuk dibiarkan terparkir begitu saja di garasi. Tidak ada yang salah kalau kepingin rileks sejenak, bersandar di kursi, berselonjor, dan membiarkan pikiran mengembara.

“Seandainya saya seorang laki-laki,” rintih Beyonce dalam lagunya yang indah itu. Sejak dulu hingga sekarang, masalah gender adalah salah satu yang paling sering dibicarakan, diperdebatkan, difilmkan, dinyanyikan, diberitakan, ditulis, dibicarakan, dan bahkan hingga sekarang, ketika semakin memudarnya era para feminis radikal (yang beranggapan bahwa para pria hanya berharga karena sperma yang mereka miliki), nyatanya di era masa kini semakin bermunculan wanita-wanita independen yang mendobrak tradisi. Mereka telah menginjak kepala tiga akhir, single, dan mempunyai penghasilan sendiri yang bisa menyokong gaya hidup mereka tanpa sokongan laki-laki manapun, seperti yang biasa kita para wanita terima sejak awal zaman. Film dengan penggambaran para wanita modern terus bermunculan, mulai dari serial The Mary Tyler Moore Show hingga ke yang lebih kekinian seperti The Devil Wears Prada, maupun Sex and the City. Buat saya yang hidup di kota kecil yang jauh dari kebisingan ibukota, pengalaman magang selama dua bulan di salah satu stasiun TV swasta ternama semakin membuka mata kalau sesungguhnya kisah-kisah dalam chick lit terjemahan yang saya baca itu tidak mengada-ada. Seluruh ritme yang ada tampaknya tergesa-gesa, mirip para Tuan Kelabu dalam Momo, berusaha mencuri waktu sebanyak mungkin untuk melakukan hal-hal. Tidak berlebihan rasanya kalau di kota besar itu, rasa-rasanya saya menjadi tokoh dongeng yang terseret pusaran dan terlempar ke dimensi lain.

Para wanita semakin berkuasa. Mereka berada di posisi-posisi yang paling berpengaruh dan membawahi para pria, namun tidak berarti mereka akan cukup aman, sebab selalu ada stigma yang menempel padanya yang tidak akan digubris seandainya pria yang berada di posisi yang sama. Saya tidak memungkiri bahkan dalam agama juga tertera, bahwa pada dasarnya laki-laki dan perempuan memang berbeda, dan dalam hal tertentu laki-laki ditakdirkan lebih kuat, gesit, dan cepat dari para wanita. Ini seolah memberi mereka prerogatif atas banyak hal yang tidak akan bisa dicecap oleh wanita, hanya karena dia seorang wanita.

Saya membayangkan diri saya yang laki-laki, memandang dunia ini dari ketinggian yang berbeda, mungkin 20 senti lebih tinggi dari biasanya. Mengenakan celana dalam pria, menjadi testosteron berjalan, dengan tubuh yang kuat dan kekar dan sesuatu yang terasa berbeda di balik celana. Mungkin saya akan mengenakan kemeja, jas, dan dasi hanya karena sangat ingin menghayatinya, menemui kekasih saya di restoran untuk melamarnya. Saya bertanya-tanya apa yang akan saya pikirkan pada saat itu. Akankah saya tipe nomaden seperti Denysnya Karen, ataukah pemurung, ataukah setia, ataukah sebaliknya, ataukah seksis, ataukah tipe yang menyenangkan dan protektif. Apakah saya mampu membuat perbedaan yang walaupun kecil namun sangat berarti bagi kekasih saya, atau wanita bakal kekasih saya, atau hell, belahan jiwa yang bahkan belum pernah saya temui.

Seandainya saja saya ini seorang laki-laki, maka saya akan membuat perbedaan. “I’ll listen to her,” kata Beyonce, menjadi pria yang dapat diandalkan dan dipercaya. Karena seorang teman saya pernah berkata dengan penuh keyakinan, “Harga diri seorang laki-laki ada pada komitmennya.” Saya meyakininya juga, sebab seorang pria dengan lidah plin-plan barangkali juga membuat saya kepingin menonjok mukanya juga.

Seandainya saya seorang pria, pria yang sempurna, maka kualitas yang seharusnya ada pada diri saya adalah:

Kesetiaan

Komitmen

Kasih sayang

Gairah

Kepercayaan Diri

Integritas

Kecerdasan

Beberapa teman saya berkata bahwa mungkin kekasih yang sempurna hanyalah bila seorang pria bukanlah pria, tapi wanita yang mampu mengerti dan memahami perasaan mereka. Saya pernah bereksperimen dengan menyamar sebagai seorang laki-laki, dengan chat bersama teman-teman cewek, dan rata-rata mereka terpesona oleh sosok imajiner yang saya tampilkan, mengatakan bahwa dia adalah cowok yang tidak akan segan-segan mereka pacari. Begitu mempesona dan penuh pengertian, memberikan komentar yang tepat di saat yang tepat, dan mendengarkan saat waktunya mendengar, tidak pernah menyudutkan dan menggurui. Saya berpikir mungkin barangkali saya memang yang paling memiliki sifat kelelaki-lakian di antara teman-teman. Bahkan nama yang diberikan buat saya pun bukan nama lazim buat perempuan. Tapi sudahlah, barangkali itulah sebabnya para pria begitu menarik. Toh saat mengetahui bahwa dengan sayalah teman-teman chat selama ini membuat mereka agak berang. Katanya saya merusak mimpi mereka, dan menambah keyakinan kalau di luar sana pria ideal memang tidak mungkin ada.

Coz you’re just a boy, you don’t understand.”


Label: ,

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda