If I Were A Boy
“Seandainya saya seorang laki-laki,” rintih Beyonce dalam lagunya yang indah itu. Sejak dulu hingga sekarang, masalah gender adalah salah satu yang paling sering dibicarakan, diperdebatkan, difilmkan, dinyanyikan, diberitakan, ditulis, dibicarakan, dan bahkan hingga sekarang, ketika semakin memudarnya era para feminis radikal (yang beranggapan bahwa para pria hanya berharga karena sperma yang mereka miliki), nyatanya di era masa kini semakin bermunculan wanita-wanita independen yang mendobrak tradisi. Mereka telah menginjak kepala tiga akhir, single, dan mempunyai penghasilan sendiri yang bisa menyokong
Saya membayangkan diri saya yang laki-laki, memandang dunia ini dari ketinggian yang berbeda, mungkin 20 senti lebih tinggi dari biasanya. Mengenakan celana dalam pria, menjadi testosteron berjalan, dengan tubuh yang kuat dan kekar dan sesuatu yang terasa berbeda di balik celana. Mungkin saya akan mengenakan kemeja, jas, dan dasi hanya karena sangat ingin menghayatinya, menemui kekasih saya di restoran untuk melamarnya. Saya bertanya-tanya apa yang akan saya pikirkan pada saat itu. Akankah saya tipe nomaden seperti Denysnya Karen, ataukah pemurung, ataukah setia, ataukah sebaliknya, ataukah seksis, ataukah tipe yang menyenangkan dan protektif. Apakah saya mampu membuat perbedaan yang walaupun kecil namun sangat berarti bagi kekasih saya, atau wanita bakal kekasih saya, atau hell, belahan jiwa yang bahkan belum pernah saya temui.
Seandainya saja saya ini seorang laki-laki, maka saya akan membuat perbedaan. “I’ll listen to her,” kata Beyonce, menjadi pria yang dapat diandalkan dan dipercaya. Karena seorang teman saya pernah berkata dengan penuh keyakinan, “Harga diri seorang laki-laki ada pada komitmennya.” Saya meyakininya juga, sebab seorang pria dengan lidah plin-plan barangkali juga membuat saya kepingin menonjok mukanya juga.
Seandainya saya seorang pria, pria yang sempurna, maka kualitas yang seharusnya ada pada diri saya adalah:
Kesetiaan
Komitmen
Kasih sayang
Gairah
Kepercayaan Diri
Integritas
Kecerdasan
Beberapa teman saya berkata bahwa mungkin kekasih yang sempurna hanyalah bila seorang pria bukanlah pria, tapi wanita yang mampu mengerti dan memahami perasaan mereka. Saya pernah bereksperimen dengan menyamar sebagai seorang laki-laki, dengan chat bersama teman-teman cewek, dan rata-rata mereka terpesona oleh sosok imajiner yang saya tampilkan, mengatakan bahwa dia adalah cowok yang tidak akan segan-segan mereka pacari. Begitu mempesona dan penuh pengertian, memberikan komentar yang tepat di saat yang tepat, dan mendengarkan saat waktunya mendengar, tidak pernah menyudutkan dan menggurui. Saya berpikir mungkin barangkali saya memang yang paling memiliki sifat kelelaki-lakian di antara teman-teman. Bahkan nama yang diberikan buat saya pun bukan nama lazim buat perempuan. Tapi sudahlah, barangkali itulah sebabnya para pria begitu menarik. Toh saat mengetahui bahwa dengan sayalah teman-teman chat selama ini membuat mereka agak berang. Katanya saya merusak mimpi mereka, dan menambah keyakinan kalau di luar
“Coz you’re just a boy, you don’t understand.”
Label: babbles of a lifetime, things to think


0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda