The End of an Era

Dalam hidup, saya termasuk orang yang menyaksikan banyak era berakhir dan digantikan oleh masa yang baru. Masa reformasi datang menggantikan kekaguman nyaris memuja pada sosok Soeharto. Masa penuh kecuekan dan anggapan bahwa masalah seperti pemanasan global masih terlalu jauh dan hanya pelajaran sampingan saat SD telah berakhir dan kini permasalahan semacam itu kian mendekat dan menghantui saya di manapun saya berada. Masa ketika saya menganggap perkataan orangtua adalah titah dan perintah mereka adalah hukum juga pelan-pelan memudar semakin saya menyadari sebagian besar ancaman mereka cuma omong kosong untuk menakut-nakuti burung. Rentang kehidupan saya, zaman saya, dipenuhi oleh pergantian yang tak tercegah, sebagaimana seorang bijak pernah mengatakan bahwa yang abadi adalah perubahan itu sendiri.
Saya akui, barangkali saya adalah orang oportunis, ke mana arah angin bertiup ke sanalah saya melangkah. Jika ada satu kelebihan yang saya miliki adalah kemampuan beradaptasi dengan cepat. Sudah saya sadari sejak lama, bahwa saya memiliki kecenderungan gampang mengambil hati orang, tahu benar kapan mengeluarkan kalimat-kalimat yang walaupun tidak kentara akan mampu menyenangkan hati orang yang mendengarnya. Mungkin ini juga ada kaitannya dengan empati yang saya punya (yang kelihatannya menurun dari ayah saya), yang membuat saya tidak akan pernah mengatakan bahwa potongan rambut baru seseorang jelek walaupun memang senyatanya buruk sekali di kepalanya. Saya selalu berusaha memahami rasanya, berada di dalam sepatu orang itu, dengan rasa tidak percaya diri, terpaksa menyandang rambutnya yang baru selama beberapa bulan ke depan dengan tekanan batin, sementara sebagian orang lain yang saya kenal akan enteng saja mengatakan, “Ya ampun jelek banget, nggak cocok ah, bagusan yang lama!” Benar-benar tidak berperasaan, tapi itu juga mayoritas orang.
Mungkin batasan antara mengambil hati dan berbohong sangat tipis, dan bahkan lebih tipis lagi dibandingkan dengan menjilat. Barangkali memang itulah saya, seorang penjilat. Tapi bukan itu yang ingin saya coba katakan lewat entry kali ini. Tuhan tahu bahwa saya adalah seorang yang loyal, tapi saya juga adalah makhluk kecil pendendam dan sama sekali tidak naif untuk mengharapkan tingkat kesetiaan yang sama dari semua orang. Sewaktu SD saya selalu menjadi bayang-bayang dari seorang teman yang menunjuk dirinya sendiri menjadi Siluman Ular Putih dan aku selalu menjadi second best, Siluman Ular Hijau dalam drama yang kami mainkan selama istirahat sekolah. Tapi saya segera melepaskan diri dari bayangannya dan menjadi Queen Bee setelah kepindahannya ke desa yang lebih terpencil. Segalanya kembali berubah setelah masa SMP, dan saya dengan lihai melakukan penyesuaian lain lagi dengan kehidupan bersama anak-anak nakal. Lagi-lagi saya menjadi bayangan dari pemimpin cewek-cewek ndugal, namun saya tidak keberatan. 4 tahun masa SD telah melatih saya menjadi pengikut yang hebat, namun walaupun kami menjadi sangat akrab dan runtang-runtung ke mana-mana dalam kelompok tidak sekalipun saya terhisap terlalu jauh ke dalam permainan kami. Dia berakhir dengan hamil di luar nikah, sedangkan kini saya adalah calon sarjana yang bingung memutuskan akan bekerja di stasiun TV, menjadi PNS, ataukah sekolah S2 untuk menyenangkan hati orangtua (tanpa pacar).
Dengan gerakan luwes lainnya, saya melepaskan diri dari kenangan masa SMP dan menceburkan diri di masa SMA yang seperti neraka. Tapi lagi-lagi saya juga mempunyai kawan yang dengan mereka saya selalu runtang-runtung. Kelompok kami adalah kelompok anak-anak pintar yang walaupun IPS, tapi pintar dan menyukai komik dan seri kartun Jepang (setidaknya dua dari enam orang menyukai komik). Benar-benar nerd sejati, tidak terbayang kehidupan SMP yang penuh kenakalan, dan beberapa teman di luar kelompok yang melihat saya akan mengatakan kalau saya orang yang eksentrik. Cerdas, tapi eksentrik. Tapi yang tidak mereka tahu, pada saat itulah saya mendapati kecenderungan saya menjadi copycat. Lagi-lagi saya lengket dengan pemimpin kelompok yang lebih dominan, dan saya menyerap dan mengkopinya dan begitu ingin jadi seperti dia. Tapi suatu kejadian mengubah saya, dan pelahan tapi pasti saya menyadari betapa besar perbedaan di antara kami, betapapun ingin saya menjadi dirinya, saya tidak akan pernah biasa. Dia adalah manusia tipe A sejati yang di mata saya terkesan sangat menarik, tapi saya hanyalah tipe B akhir yang berusaha ingin menjadi si A, namun dengan kadar empati dan sifat flamboyan yang terlalu besar.
Masa SMA juga akan saya namai dengan sebutanera Cosanostra. Teman-teman dalam kelompok kami akan paham maksudnya, tapi saya terus bertanya-tanya, apakah saya memang benar-benar Cosanostra, ataukah hanya berlagak menjadi Cosanostra? Dengan limbung kelompok solid berenam kami terpisah-pisah, dan saya memasukkan diri ke dalam kelompok lain lagi yang walaupun tidak sama eratnya namun juga memiliki tingkat solidaritas tinggi. Dan masa SMA pun berakhir, dengan satu orang yang masih tersisa bersama saya, kami memasukkan diri ke dunia perkuliahan yang seperti dunia lainnya Dorothy dan Alice. Untuk sementara saya cukup puas dengan menjadi si freak, bergaul dengan anak aneh itu, memuaskan keinginan saya akan segala hal berbau-bau otaku. Oh, God, kalau saya ingat masa-masa kegelapan itu. Tapi ibarat mutiara yang terlalu terang untuk terus berada dalam tumpukan jerami, akhirnya orang-orang menemukan saya. Beberapa anak yang secara materi sangat berkecukupan, namun memiliki kompleksitas kini menjadi teman-teman dekat saya, dan perlahan tapi pasti saya melepaskan pegangan si aneh. Mungkin teman-teman saya akan menertawakan kalau saya bilang kadang-kadang merindukan kebersamaan kami. Tapi tentu saja saya tidak akan mengakuinya. Masa-masa itu terlalu jauh di belakang, dan terbukti keputusan saya tepat. Dengan sokongan teman-teman baru, posisi saya dalam pergaulan pun meningkat, dengan mereka saya kembali berusaha menciptakan lingkaran kecil yang kuat, dan kali ini saya tidak akan membiarkan seorangpun mendikte saya. Sayalah pemimpinnya, saya melihat kata-kata saya didengar dan rasanya menyenangkan. Tapi mungkin memang sejak awal saya telah berbakat dengan hal itu, membisikkan keinginan saya dan membuat seolah-olah hiu tempat saya menempellah yang menginginkannya. Jadi ini rasanya “come out”.
Pada salah satu tugas kuliah, bahkan saya telah berhasil membentuk satu lagi kelompok yang solid. Lagi-lagi dengan kemampuan saya membuat mereka berpikir bahwa kelompok ini adalah kelompok hebat yang akan mereka sayangi dan menjadi tempat yang cocok buat mereka. Saya berhasil mengeluarkan kemampuan terbaik hampir setiap orang dan menjadikan diri saya diakui. Lalu tugas perang (kuliah kerja) memanggil, dan saya mesti meninggalkan sarang yang nyaman buat pergi ke ibukota. Dan seperti yang mungkin sudah kauduga, saya berhasil membuat mereka mempedulikan keberadaan saya dan bahkan menganggap saya sebagai salah satu magang yang paling berkesan. Tidak semua orang bisa melakukan ini, tentu saja, mereka bahkan menelepon buat menawarkan pekerjaan yang akhirnya tidak saya terima. Mungkin inilah saya, setelah mengubah suatu tempat menjadi sarang yang enak buat ditinggali, saya akan memandang keluar jendela, dan melihat-lihat tempat menarik lainnya buat ditaklukkan. Saya bukan pembosan, tapi barangkali saya adalah oportunis sejati yang berhasil menyembunyikan diri.
Dan ketika pada tugas terakhir buat memproduksi film dokumenter diumumkan, dengan tenang saya membelokkan langkah kaki, mengkhianati teman-teman dalam kelompok saya yang lalu, yang memandang kepergian saya dengan wajah aneh. Saya bohong, saya bukannya tidak cemas. Kelompok saya yang lama kebetulan terdiri dari mereka yang terkenal mumpuni di bidang-bidang yang tidak saya kuasai. Saya akan aman berada bersama mereka, bahkan posisi saya telah ditentukan. Tapi di tengah hiruk pikuk kebingungan itulah, saya memutuskan buat melangkahkan kaki ke arah yang lain, menuju teman-teman saya yang lain, yang meskipun tidak terlalu expert, namun merekalah tempat saya bisa bergantung nanti setelah semua ini selesai. Saya tidak akan membahayakan persahabatan yang penting ini dengan sebuah pengkhianatan. Dan dengan kelompok bentukan baru yang masih asing itulah, saya berusaha dengan sekuat tenaga mempersatukan semuanya, membuat mereka ingat dan mempercayai, bahwa hanya kelompok inilah yang mereka miliki. Tidak penting apakah saya juga mempercayainya, yang jelas kami berhasil meraih nilai kumulatif tertinggi.
Kini, setelah semua euforia telah berlalu, beberapa masih terikat dengan keinginan mengembalikan kejayaan yang telah lama memudar. Saya adalah orang yang loyal pada teman-teman dekat saya, namun mereka tidaklah cukup dekat untuk mendapatkan kadar kesetiaan yang sama besar. Dan terbukti mereka telah melakukannya, menikam teman saya di depan mata saya sendiri. Dan yang saya lakukan selanjutnya adalah sebuah langkah mudah. Lebih mudah dari beberapa perpisahan yang saya jalani selama ini. Bahwa setelah sudah tidak ada lagi stimulus seperti “nilai”, dan juga “tugas kuliah” maka kelompok yang pernah berjaya ini akan perlahan kehilangan gaungnya. Saya memahami penuh, bahwa inilah yang disebut sebagai akhir dari sebuah era. Bahwa sudah cukup kebersamaan saya dengan masa-masa menyenangkan itu, berada dan menjadi bagian dalam kelompok itu, dan sudah saatnya saya melangkahkan kaki lagi menuju tempat yang lebih tinggi lagi, yang lebih jauh lagi yang sejauh kaki saya dapat capai.
Lalu apakah saya akan datang pada acara reuni kumpul-kumpul yang akan mereka adakan hari ini nanti siang? Sepertinya tidak.
Saya membayangkan apakah saya akan berhasil sampai ke tempat di mana saya akan dapat menghabiskan waktu saya dengan damai. Mungkin setelah lulus nanti saya akan memulai pencarian saya. Dan jika beruntung, barangkali saya akan menemukan sebuah tempat yang bisa saya sebut sebagai milik saya. Era baru telah datang, selamat tinggal.
Saya akui, barangkali saya adalah orang oportunis, ke mana arah angin bertiup ke sanalah saya melangkah. Jika ada satu kelebihan yang saya miliki adalah kemampuan beradaptasi dengan cepat. Sudah saya sadari sejak lama, bahwa saya memiliki kecenderungan gampang mengambil hati orang, tahu benar kapan mengeluarkan kalimat-kalimat yang walaupun tidak kentara akan mampu menyenangkan hati orang yang mendengarnya. Mungkin ini juga ada kaitannya dengan empati yang saya punya (yang kelihatannya menurun dari ayah saya), yang membuat saya tidak akan pernah mengatakan bahwa potongan rambut baru seseorang jelek walaupun memang senyatanya buruk sekali di kepalanya. Saya selalu berusaha memahami rasanya, berada di dalam sepatu orang itu, dengan rasa tidak percaya diri, terpaksa menyandang rambutnya yang baru selama beberapa bulan ke depan dengan tekanan batin, sementara sebagian orang lain yang saya kenal akan enteng saja mengatakan, “Ya ampun jelek banget, nggak cocok ah, bagusan yang lama!” Benar-benar tidak berperasaan, tapi itu juga mayoritas orang.
Mungkin batasan antara mengambil hati dan berbohong sangat tipis, dan bahkan lebih tipis lagi dibandingkan dengan menjilat. Barangkali memang itulah saya, seorang penjilat. Tapi bukan itu yang ingin saya coba katakan lewat entry kali ini. Tuhan tahu bahwa saya adalah seorang yang loyal, tapi saya juga adalah makhluk kecil pendendam dan sama sekali tidak naif untuk mengharapkan tingkat kesetiaan yang sama dari semua orang. Sewaktu SD saya selalu menjadi bayang-bayang dari seorang teman yang menunjuk dirinya sendiri menjadi Siluman Ular Putih dan aku selalu menjadi second best, Siluman Ular Hijau dalam drama yang kami mainkan selama istirahat sekolah. Tapi saya segera melepaskan diri dari bayangannya dan menjadi Queen Bee setelah kepindahannya ke desa yang lebih terpencil. Segalanya kembali berubah setelah masa SMP, dan saya dengan lihai melakukan penyesuaian lain lagi dengan kehidupan bersama anak-anak nakal. Lagi-lagi saya menjadi bayangan dari pemimpin cewek-cewek ndugal, namun saya tidak keberatan. 4 tahun masa SD telah melatih saya menjadi pengikut yang hebat, namun walaupun kami menjadi sangat akrab dan runtang-runtung ke mana-mana dalam kelompok tidak sekalipun saya terhisap terlalu jauh ke dalam permainan kami. Dia berakhir dengan hamil di luar nikah, sedangkan kini saya adalah calon sarjana yang bingung memutuskan akan bekerja di stasiun TV, menjadi PNS, ataukah sekolah S2 untuk menyenangkan hati orangtua (tanpa pacar).
Dengan gerakan luwes lainnya, saya melepaskan diri dari kenangan masa SMP dan menceburkan diri di masa SMA yang seperti neraka. Tapi lagi-lagi saya juga mempunyai kawan yang dengan mereka saya selalu runtang-runtung. Kelompok kami adalah kelompok anak-anak pintar yang walaupun IPS, tapi pintar dan menyukai komik dan seri kartun Jepang (setidaknya dua dari enam orang menyukai komik). Benar-benar nerd sejati, tidak terbayang kehidupan SMP yang penuh kenakalan, dan beberapa teman di luar kelompok yang melihat saya akan mengatakan kalau saya orang yang eksentrik. Cerdas, tapi eksentrik. Tapi yang tidak mereka tahu, pada saat itulah saya mendapati kecenderungan saya menjadi copycat. Lagi-lagi saya lengket dengan pemimpin kelompok yang lebih dominan, dan saya menyerap dan mengkopinya dan begitu ingin jadi seperti dia. Tapi suatu kejadian mengubah saya, dan pelahan tapi pasti saya menyadari betapa besar perbedaan di antara kami, betapapun ingin saya menjadi dirinya, saya tidak akan pernah biasa. Dia adalah manusia tipe A sejati yang di mata saya terkesan sangat menarik, tapi saya hanyalah tipe B akhir yang berusaha ingin menjadi si A, namun dengan kadar empati dan sifat flamboyan yang terlalu besar.
Masa SMA juga akan saya namai dengan sebutanera Cosanostra. Teman-teman dalam kelompok kami akan paham maksudnya, tapi saya terus bertanya-tanya, apakah saya memang benar-benar Cosanostra, ataukah hanya berlagak menjadi Cosanostra? Dengan limbung kelompok solid berenam kami terpisah-pisah, dan saya memasukkan diri ke dalam kelompok lain lagi yang walaupun tidak sama eratnya namun juga memiliki tingkat solidaritas tinggi. Dan masa SMA pun berakhir, dengan satu orang yang masih tersisa bersama saya, kami memasukkan diri ke dunia perkuliahan yang seperti dunia lainnya Dorothy dan Alice. Untuk sementara saya cukup puas dengan menjadi si freak, bergaul dengan anak aneh itu, memuaskan keinginan saya akan segala hal berbau-bau otaku. Oh, God, kalau saya ingat masa-masa kegelapan itu. Tapi ibarat mutiara yang terlalu terang untuk terus berada dalam tumpukan jerami, akhirnya orang-orang menemukan saya. Beberapa anak yang secara materi sangat berkecukupan, namun memiliki kompleksitas kini menjadi teman-teman dekat saya, dan perlahan tapi pasti saya melepaskan pegangan si aneh. Mungkin teman-teman saya akan menertawakan kalau saya bilang kadang-kadang merindukan kebersamaan kami. Tapi tentu saja saya tidak akan mengakuinya. Masa-masa itu terlalu jauh di belakang, dan terbukti keputusan saya tepat. Dengan sokongan teman-teman baru, posisi saya dalam pergaulan pun meningkat, dengan mereka saya kembali berusaha menciptakan lingkaran kecil yang kuat, dan kali ini saya tidak akan membiarkan seorangpun mendikte saya. Sayalah pemimpinnya, saya melihat kata-kata saya didengar dan rasanya menyenangkan. Tapi mungkin memang sejak awal saya telah berbakat dengan hal itu, membisikkan keinginan saya dan membuat seolah-olah hiu tempat saya menempellah yang menginginkannya. Jadi ini rasanya “come out”.
Pada salah satu tugas kuliah, bahkan saya telah berhasil membentuk satu lagi kelompok yang solid. Lagi-lagi dengan kemampuan saya membuat mereka berpikir bahwa kelompok ini adalah kelompok hebat yang akan mereka sayangi dan menjadi tempat yang cocok buat mereka. Saya berhasil mengeluarkan kemampuan terbaik hampir setiap orang dan menjadikan diri saya diakui. Lalu tugas perang (kuliah kerja) memanggil, dan saya mesti meninggalkan sarang yang nyaman buat pergi ke ibukota. Dan seperti yang mungkin sudah kauduga, saya berhasil membuat mereka mempedulikan keberadaan saya dan bahkan menganggap saya sebagai salah satu magang yang paling berkesan. Tidak semua orang bisa melakukan ini, tentu saja, mereka bahkan menelepon buat menawarkan pekerjaan yang akhirnya tidak saya terima. Mungkin inilah saya, setelah mengubah suatu tempat menjadi sarang yang enak buat ditinggali, saya akan memandang keluar jendela, dan melihat-lihat tempat menarik lainnya buat ditaklukkan. Saya bukan pembosan, tapi barangkali saya adalah oportunis sejati yang berhasil menyembunyikan diri.
Dan ketika pada tugas terakhir buat memproduksi film dokumenter diumumkan, dengan tenang saya membelokkan langkah kaki, mengkhianati teman-teman dalam kelompok saya yang lalu, yang memandang kepergian saya dengan wajah aneh. Saya bohong, saya bukannya tidak cemas. Kelompok saya yang lama kebetulan terdiri dari mereka yang terkenal mumpuni di bidang-bidang yang tidak saya kuasai. Saya akan aman berada bersama mereka, bahkan posisi saya telah ditentukan. Tapi di tengah hiruk pikuk kebingungan itulah, saya memutuskan buat melangkahkan kaki ke arah yang lain, menuju teman-teman saya yang lain, yang meskipun tidak terlalu expert, namun merekalah tempat saya bisa bergantung nanti setelah semua ini selesai. Saya tidak akan membahayakan persahabatan yang penting ini dengan sebuah pengkhianatan. Dan dengan kelompok bentukan baru yang masih asing itulah, saya berusaha dengan sekuat tenaga mempersatukan semuanya, membuat mereka ingat dan mempercayai, bahwa hanya kelompok inilah yang mereka miliki. Tidak penting apakah saya juga mempercayainya, yang jelas kami berhasil meraih nilai kumulatif tertinggi.
Kini, setelah semua euforia telah berlalu, beberapa masih terikat dengan keinginan mengembalikan kejayaan yang telah lama memudar. Saya adalah orang yang loyal pada teman-teman dekat saya, namun mereka tidaklah cukup dekat untuk mendapatkan kadar kesetiaan yang sama besar. Dan terbukti mereka telah melakukannya, menikam teman saya di depan mata saya sendiri. Dan yang saya lakukan selanjutnya adalah sebuah langkah mudah. Lebih mudah dari beberapa perpisahan yang saya jalani selama ini. Bahwa setelah sudah tidak ada lagi stimulus seperti “nilai”, dan juga “tugas kuliah” maka kelompok yang pernah berjaya ini akan perlahan kehilangan gaungnya. Saya memahami penuh, bahwa inilah yang disebut sebagai akhir dari sebuah era. Bahwa sudah cukup kebersamaan saya dengan masa-masa menyenangkan itu, berada dan menjadi bagian dalam kelompok itu, dan sudah saatnya saya melangkahkan kaki lagi menuju tempat yang lebih tinggi lagi, yang lebih jauh lagi yang sejauh kaki saya dapat capai.
Lalu apakah saya akan datang pada acara reuni kumpul-kumpul yang akan mereka adakan hari ini nanti siang? Sepertinya tidak.
Saya membayangkan apakah saya akan berhasil sampai ke tempat di mana saya akan dapat menghabiskan waktu saya dengan damai. Mungkin setelah lulus nanti saya akan memulai pencarian saya. Dan jika beruntung, barangkali saya akan menemukan sebuah tempat yang bisa saya sebut sebagai milik saya. Era baru telah datang, selamat tinggal.
Label: things to think


0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda