Wanita Gua dan Permasalahan Klasiknya

Para wanita gua, duduklah melingkar, api unggun telah dinyalakan. Cahaya luar yang menyilaukan itu, suatu saat akan memanggil kita juga. Bayangkan dirimu ada di antaranya, di bawah terpaan matahari dan desau angin. Sampai saat itu tiba, marilah kita berdoa.

Foto Saya
Nama:
Lokasi: Solo, Jawa Tengah, Indonesia

Cavewoman adalah saya. Di dalam gua, duduk seorang diri terkurung oleh kegelapan. Saya adalah seorang wanita yang mengutarakan hal-hal yang ada dalam benak, dan apa yang saya maui. Kelak saya akan keluar dari gua, menjadi orang biasa, melahirkan anak-anak saya dan membentuk keluarga yang luar biasa. Pasti.

Rabu, 08 April 2009

Farewell My Friend

Kalau ada satu sahabat yang saya punya yang memiliki kadar empati sebesar Gunung Lawu, ya barangkali hanya Atiek Lestari. Hari ini dia pulang ke Purworejo, dan rasanya kok hati ini terasa sedih sekali ya... Padahal saya bakal menyusul ke rumahnya beberapa hari lagi buat berlibur (yang sangat saya butuhkan setelah labirin aneh di hari sebelum ini). Bukan hanya itu, tapi saya sepertinya semakin dihadapkan pada kenyataan kalau semua teman saya, satu persatu saling memisahkan diri, seperti mitosisnya amoeba.

Saya tidak bisa menghentikan proses ini, karena saya tahu ini adalah salah satu bagian dari kehidupan yang harus saya lalui. Berpisah dengan teman-teman. Satu persatu. Atiek akan ke Jakarta minggu depan, dan entah kapan kami baru dapat bersua lagi. Setelah saya mengantarkan kepergiannya naik Prameks sore ini, air mata saya jatuh. Saya mengalami guncangan emosional. Saya sangat sadar kalau setelah ini, tidak ada lagi kami yang berenam. Kami akan menghadapi dunia ini sendirian saja.

Bukannya saya orang yang clingy, saya mandiri, sangat mandiri. Saya tidak keberatan ke mana-mana sendirian, saya mengambil tema skripsi yang membuat saya dapat menjauh dari keramaian selama barang sesaat. Saya adalah seorang etnografer dalam jiwa ini. Solitudeness adalah poin kekuatan saya. Tapi di akhir hari, biasanya saya nyaman mengetahui ada orang-orang yang siap memberikan bahu mereka buat saya. Dan sekarang keseimbangan itu pelan-pelan bergerak, berubah menuju keseimbangan baru. Akhir sebuah era.

Saya sedih, tapi agaknya memang tidak bisa berbuat apa-apa. Seperti kata orang-orang, segala sesuatu berubah. Sebab yang abadi adalah perubahan itu sendiri.

Label: ,

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda