Wanita Gua dan Permasalahan Klasiknya

Para wanita gua, duduklah melingkar, api unggun telah dinyalakan. Cahaya luar yang menyilaukan itu, suatu saat akan memanggil kita juga. Bayangkan dirimu ada di antaranya, di bawah terpaan matahari dan desau angin. Sampai saat itu tiba, marilah kita berdoa.

Foto Saya
Nama:
Lokasi: Solo, Jawa Tengah, Indonesia

Cavewoman adalah saya. Di dalam gua, duduk seorang diri terkurung oleh kegelapan. Saya adalah seorang wanita yang mengutarakan hal-hal yang ada dalam benak, dan apa yang saya maui. Kelak saya akan keluar dari gua, menjadi orang biasa, melahirkan anak-anak saya dan membentuk keluarga yang luar biasa. Pasti.

Sabtu, 28 Maret 2009

60 Menit untuk Perubahan



Hari Bumi yang diperingati 28 Maret kemarin menjadi spesial buat saya. Ada agenda yang diiklankan di televisi, mengajak semua orang untuk mematikan lampu rumahnya pada malam hari pukul 20.30 WIB sampai 21.30 WIB atau satu jam dalam hari itu, yaitu pada saat puncak pemakaian daya listrik. Menurut berita di surat kabar (Jawa Pos, 29 Maret 2009) sebesar 300 Mega watt telah dihemat hanya di Jakarta saja, yang besarnya bisa dipakai buat menyalakan lampu di 900 desa. Hebat kan? Dimotori oleh World Wildlife Fund (WWF), masyarakat Jakarta telah antusias bahkan sejak sebulan sebelumnya. Dan tentu saja di kota-kota lain juga ada orang-orang yang peduli dan turut berpartisipasi walaupun tidak seterkoordinasi seperti di Jakarta. Tahun depan pada 28 Maret orang-orang LSM berencana akan mengembangkan kegiatan ini hingga ke kota-kota lain.

Saya menyadari, bahwa dibandingkan alam semesta yang luar biasa besar, bumi hanyalah seper -entah berapa dari sebutir pasir. Bumi yang kecil ini telah memberikan segala yang ia miliki, dan sebagai gantinya, seperti kanker manusia menancapkan akar-akar dan terus merusaknya. Tidak seperti Pangeran Kecil yang mencintai dan merawat planet kecil beserta mawarnya, kita sering lupa bahwa perbandingan kerusakan yang terus kita buat di muka bumi ini dengan kemampuan bumi untuk mengembalikannya seperti semula sama sekali tidak seimbang. Kalau kita membayangkan berapa juta tahun bahan bakar fosil baru dapat terbentuk, maka sungguh cepat dan sembrono cara kita menghabiskan dan mengeruknya. Bumi ini semakin lama akan semakin mengerut dan saat kita sadar, bukan wanita muda lagi yang akan tampak, tapi nenek tua getir yang doyan marah-marah. Hujan es turun di mana-mana, sesuatu yang barangkali oleh pihak yang sinis dianggap sebagai hal yang biasa. Hal. Yang. Biasa. Apa-apaan isi otaknya itu, kepingin rasanya aku membenturkan kepalanya yang keras ke dinding beton hingga hancur.

Amerika sialan dan brengsek itu tidak juga mau menandatangani protokol Kyoto. Dipikirnya mereka siapa? Tuhan? Dan setelah semua gas buang yang mereka lepas ke angkasa, kini semua menoleh ke Indonesia, ke arah hutan di Borneo, memerintahkan negara ini menjaga green belt, dan mengecam pembalakan liar dan kebakaran hutan. Well Uncle Sam, you may eat my shit. Seenak perutnya saja mereka memutuskan. Tandatangani dulu protokol itu, baru mereka berhak bicara. Tahukah mereka kalau merekalah sumber produsen gas buang paling besar, dan bahkan lebih besar dari negara dunia ketiga digabungkan jadi satu? Keparat brengsek itu.

Nah, mungkin hanya satu suara kecil milikku ini tidak akan menggerakkan gunung, tapi aku yakin bahwa orang-orang akan bersatu pada suatu titik, menyadari bahwa bumi adalah satu-satunya yang mereka punya. Sampai saat itu tiba, maka langkah-langkah kecil akan menjadi pembeda dari orang-orang yang peduli dan tidak, orang-orang yang tahu dan melakukan sesuatu dari orang-orang yang tahu namun tetap diam.

Seorang teman saya meng-sms saya mengatakan bahwa ia tidak bisa melakukan dan berpartisipasi, hal yang sebenarnya wajar dan tidak masalah bagi saya, toh satu saklar lampu pun cukup, atau bahkan niat baik. Namun alih-alih mengatakannya, dia malah berkata “aku ora melu-melu” (saya tidak ikut-ikutan). Menyakitkan sekali bukan buat didengarkan, dan kalimat selanjutnya seolah mengatakan bahwa percuma kalau satu jam, seharusnya hal itu adalah hal yang menjadi kebiasaan. Yang tidak temanku tersayang ini ketahui, adalah bahwa tidak ada hal yang percuma di dunia ini. Semuanya akan membawa implikasi-implikasi walaupun kecil, samar dan seolah tidak ada. Dan tentu saja barangkali dia lupa kalau tidak semua orang sepertinya, tidak semua orang memiliki pengetahuan soal ini, dan tidak semua orang siap untuk melakukan lompatan besar. Lalu lebih parah lagi, dia menuduh saya pamer. PAMER. God, saya hanya berusaha menjelaskan bahwa di masa SMP, SMA, dan awal kuliah saya adalah pengguna angkutan umum sejati, untuk memberikan contoh hal-hal yang bisa dilakukan, dan dia menuduh saya pamer. Demi Tuhan, saya tidak akan berkata demikian seandainya dia juga tidak menyinggung-nyinggung soal keluarganya yang super hemat itu. Siapa juga yang ingin menyuruh dia mematikan lampu pabrik atau tokonya yang hebat? Asal kesadaran dipetik, dan dia berusaha melakukan sesuatu yang tidak usah disebutkan rasanya cukup, seolah-olah saya berusaha menjadi yang paling baik saja dengan mengajak, meng-sms semua teman saya dengan harapan informasi dan pengetahuan itu dapat tersalur dan bukannya berdiam di pengapnya rongga tengkorak.

Teman saya itu juga bahkan mengatakan bahwa ketika dia melihat di sekeliling rumahnya lampu-lampu neon masih menyala dengan terang benderang (yang karenanya tidak ada alasan buat dia berpartisipasi), hell, memangnya dia pikir kita ini siapa? Gubernur yang bisa memadamkan lampu di seluruh kota? Justru poin dan inti dari 60 menit SWITCHING OFF ini adalah menunjukkan suara kita, atau silence voting, melakukannya dengan hal-hal termudah yang bisa kita lakukan. Lagi saya tekankan, saya tidak bermaksud memaksanya atau menghakiminya gara-gara tidak mau mematikan lampu. Please itu hak setiap orang. Tapi juga jangan mengajukan alasan semacam itu, yang menunjukkan bahwa seolah-olah hal ini dilakukan kalau kita berada dalam mayoritas. Bentuk ibadah kepada Tuhan tidak hanya berbentuk solat, puasa, zakat, haji, amal muamalah, tapi juga rasa syukur pada Alloh SWT yang kita tunjukkan lewat bagaimana kita menjadi khalifah yang baik di muka bumi ini. Sesederhana itu. Semalam mungkin rumah saya adalah satu-satunya yang gelap gulita di daerah Jaten, tapi mungkin juga tidak. Sebagian teman yang saya SMS menyatakan berpartisipasi, dan semua tampak bersemangat. Menyenangkan sekali.

Satu jam dalam kegelapan itu adalah waktu yang tepat buat sejenak mengingat, mengoreksi diri, dan memikirkan cara-cara yang selanjutnya bisa kita pakai buat menjadikan hidup kita lebih bermakna ketimbang sekedar bertahan hidup dan acuh terhadap hal selainnya. What a pity, sayang sekali.

Langkah-langkah sederhana untuk mencegah global warming:

1. Hemat penggunaan plastik

Hei kita sudah tahu bahwa plastik adalah senyawa yang tidak akan terurai selama ratusan juta tahun, karenanya kita harus mengurangi ketergantungan pada plastik. Tips mudahnya adalah dengan berbelanja dengan menggunakan kantong kain yang bisa dipakai berkali-kali dan awet. Atau kalaupun terpaksa, maka simpan plastik dan pakailah beberapa kali sebelum dibuang. Kurangi mengkonsumsi minuman kemasan, yang bisa diakali dengan membawa minum dari rumah dalam wadah minum. Tas kain yang berwarna hijau dan bertuliskan Go Green banyak dijual di Alfamart terdekat seharga Rp 6.000,00.

2. Hemat Penggunaan Kertas

Saat kamu hendak membuang kertas, ingatlah berapa juta pohon yang ditebang untuk dibuat jadi bubur kertas tiap tahunnya. Jadi penggunaan kantong kertas pun sama harus dihemat sebagaimana kantung plastik.

3. Hemat Listrik

Sesederhana jari tangan yang memencet sakelar lampu, matikan yang tidak terpakai. Sesederhana itu.

4. Hemat Bahan Bakar

Naik bis atau transportasi umum lainnya kalau memungkinkan. Lakukan segala hal yang bisa dan tidak menyulitkan diri.

Semoga Tuhan menyertai kita.

Label: , ,

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda