Mimpi Aneh (Part 1)

Tepatnya bukan semalam, tapi beberapa malam yang lalu(30/3). Saya hendak menuliskannya kemarin tapi tiba-tiba koneksi internet di Sphere (tempat saya biasa ngenet) ngadat. Saya mimpi aneh, yang barangkali produk pikiran-pikiran alam bawah sadar yang tertekan jauh ke dalam dan saya sembunyikan.
Saya bermimpi sedang berada di sebuah kereta yang berhenti. Keretanya diisi cukup banyak orang yang duduk, sementara saya berdiri. Entah bagaimana, saya tahu kalau kereta itu adalah kereta antara yang akan membawa menuju alam para roh. Suasananya biasa saja, tapi kesan yang dapat saya tangkap adalah kesan muram. Warnanya banyak didominasi kuning gading atau putih tulang, dan warna-warna tanah.
Saya melirik ke belakang, dua orang teman saya, Olip, dan yang seorang lagi saya kurang jelas antara apakah itu Dena atau Yuka, memutuskan buat pergi melanjutkan perjalanan dengan kereta itu ke dunia arwah. Sedangkan saya akan langsung pulang ke dunia saya, dunia nyata yang kita tinggali ini. Ketika saya menoleh ke depan lagi saya agak terkejut karena teman lama saya, si D sudah membeli tiket mendahului. Dia bahkan tidak memberitahukan atau mengingatkan saya buat cepat membeli tiketnya pada perempuan berjilbab merah. Dengan kesal saya membeli tiket, tapi si penjual tiket berjilbab merah itu, yang wajahnya agak familier tapi saya lupa pernah ketemu di mana, tidak juga segera melayani permintaan saya. Ia terus menangguhkan, memberi janji, dan menangguhkan. Sementara itu, kereta satu-satunya yang tersisa sore itu buat membawa orang yang mau kembali ke dunia nyata sudah datang di seberang lintasan. Secepat kilat D keluar tanpa menoleh ke belakang, sementara saya terjebak.
Kembali memusatkan perhatian, akhirnya perempuan berjilbab merah itu memberikan tiket saya, tapi terlambat, kereta yang saya tumpangi berjalan. Wanita itu berteriak menyuruh saya menginjak bel darurat. “Itu di sana,” teriaknya menunjuk pijakan warna merah. Saya menginjaknya hingga peluit berbunyi kencang, dan kereta berhenti, sementara saya melompat turun.
Ketika saya sudah berada di seberang lintasan, kereta yang menuju alam nyata sudah tidak ada. Mereka selalu datang dan pergi dengan cepat. Berdiri di tengah-tengah hiruk pikuk orang, saya pun merasa kebingungan. Saya bertanya pada orang yang berdiri di sebelah saya, yang ternyata adalah perempuan berjilbab merah. “Saya ketinggalan kereta, bagaimana ini?” Ini semua kan gara-gara dia. Wanita itu menyuruh saya berlari ke arah pasar, siapa tahu keretanya masih di sana, karena sebelum berangkat ia akan berkeliling mengitari pasar. Saya langsung lari lagi dengan tidak membuang waktu. Tiba-tiba setting dan suasana berubah, dinding-dinding stasiun menjadi kilasan pertokoan dan warung yang berjejer. Pada jalan-jalan yang menghubungkan kelokan-kelokan terdapat rel kereta, tapi di manapun dan ke manapun saya berlari kereta yang saya cari tidak terlihat di manapun.
Terengah-engah saya berhenti sambil melihat ke sana ke mari. Orang-orang hilir mudik dengan kesibukannya. Tidak terlalu ramai, tapi ada cukup banyak orang. “Apakah itu yang kamu cari?” tanya wanita berjilbab merah yang tahu-tahu ada di samping saya. Ketika saya melihatnya, ada kereta yang aneh sekali, yang berputar seperti kereta pada arena permainan anak-anak. Kereta itu seperti datang dari masa depan karena gerakannya aneh, dan memiliki kaki-kaki mesin yang bergerak simultan. Kesannya monoton. “Bukan.”
Saya berlari menuju suatu arah yang saya yakini sendiri. Tapi tiba-tiba gilingan logam panas raksasa berwarna biru menggelinding ke arah saya. Hampir-hampir suasana yang saya rasakan seperti ada di film fantasi anak-anak. Seperti di cerita tentang tiga anak yatim piatu yang hendak dibunuh pamannya yang diperankan jim carey, a series of unfortunate events, atau di Charlie and the Chocolate Factory. Takut digilas, saya berbalik melarikan diri, dan hampir menabrak cowok tinggi yang memakai baju tanpa lengan seperti pekerja pasar, yang membawa tabung gas berwarna biri identik dengan yang akan menggilas saya. Terpekik menghindarinya, saya naik ke atas tangga dengan jantung berdentam-dentam. Sepertinya tak seorangpun melihat atau menyadari keberadaan saya. Cowok tadi mengobrol dengan cowok lain yang berdiri di samping saya tanpa menggubris keberadaan saya sama sekali.
Aneh. Dan kemudian saya terbangun. Ada beberapa mimpi yang membuat saya kesal karena terbangun (biasanya mimpi romantis dengan cowok). Saya merasa potongan yang saya lihat malam itu hanyalah bagian dari kisah yang lebih besar. Mungkin saya akan menuliskannya suatu hari nanti. Kalau beruntung barangkali satu atau setengah dekade lagi seseorang akan melihatnya di rak bestseller. Ya, siapa tahu kan? Tidak ada salahnya mengharap.
Kata orang, mimpi adalah bagian alam bawah sadar yang ingin mengungkapkan perasaannya. Mungkin saya terlalu tegang karena akan ujian skripsi (Dosen itu akhirnya pulang), dan sebagian ceritanya, yaitu tentang si D yang berlari mendahului saya, barangkali juga adalah berdasarkan kisah nyata, di mana si D itu telah mendahului saya pergi ke Amerika Serikat untuk program pertukaran pelajar. Selama ini, pergi ke luar negeri adalah cita-cita dan hasrat yang terus saya pendam. Saya harus lebih fokus buat mewujudkannya.


0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda