Wanita Gua dan Permasalahan Klasiknya

Para wanita gua, duduklah melingkar, api unggun telah dinyalakan. Cahaya luar yang menyilaukan itu, suatu saat akan memanggil kita juga. Bayangkan dirimu ada di antaranya, di bawah terpaan matahari dan desau angin. Sampai saat itu tiba, marilah kita berdoa.

Foto Saya
Nama:
Lokasi: Solo, Jawa Tengah, Indonesia

Cavewoman adalah saya. Di dalam gua, duduk seorang diri terkurung oleh kegelapan. Saya adalah seorang wanita yang mengutarakan hal-hal yang ada dalam benak, dan apa yang saya maui. Kelak saya akan keluar dari gua, menjadi orang biasa, melahirkan anak-anak saya dan membentuk keluarga yang luar biasa. Pasti.

Jumat, 27 Maret 2009

5 Alasan Kenapa Saya Memuja Buku-Buku Linda Howard

Linda Howard adalah nama pena dari penulis berkebangsaan Amerika Serikat, Linda Howington. Buku pertamanya yang saya baca adalah Almost Forever yang judul terjemahannya kurang begitu saya ingat. Kesan yang saya dapat setelah membacanya, adalah saya begitu terpikat oleh dinamik antara Max Benedict dan Claire, yang berbeda dan belum pernah saya dapatkan setelah membaca roman Harlequin manapun. Sosok Max benar-benar memengaruhi saya berjam-jam pada malam harinya setelah saya selesai membaca, dan bahkan membuat saya membaca ulang seluruh buku itu, walaupun saya belum pernah melakukannya sebelumnya. Oh ya, saya menyukai kisah-kisah roman Harlequin, ada masanya ketika saya selalu berburu buku baru di persewaan, namun entah kenapa selalu saja ada yang off, atau tidak pada tempatnya dalam benak saya. Entah ceritanya terlalu klise, tokoh utama wanitanya kurang berkarakter, hero yang kelewat menyebalkan, jalan cerita yang terlalu lambat dan membosankan, dan bahkan cerita yang agak sensitif. Misalnya Sandra Brown, karya yang pertama saya baca sekaligus menjadi favorit saya setelahnya, judulnya saya lupa tapi bersampul biru atau ungu tua dengan tokoh utama bernama Marnie dan tokoh pria seorang mantan astronot. Saya tidak tahu pendapat orang-orang lain, tapi walaupun secara umum saya suka cerita itu (harlequin pertama, sehingga ada semacam keterikatan emosional) tapi saya tidak nyaman membacanya. Sandra Brown senang sekali memakai kisah adik perempuan yang suka kekasih kakak perempuannya, atau yang lebih menyebalkan anak perempuan yang suka kekasih ibunya. Hiiee! Ada batas-batas di dunia ini, jika ingin membuat cerita yang gelap seperti itu, buatlah seserius mungkin, siapa tahu kau akan berakhir menjadi Vladimir Nobokov yang lain. Tapi ini kisah romantis, seharusnya bikin perut pembaca memelintir senang bukannya muak.

Dari Almost Forever saya seperti diarahkan untuk membaca Sarah’s Child. Almost Forever adalah sekuel, sehingga dengan mudah saya masuk dan meresapi cerita tentang Buah Hati Sarah. OHO, tidak perlu dikatakan lagi, semenjak itu saya kecanduan Linda Howard, berusaha mencari bukunya yang lain lagi, tapi setelah Heartbreaker dan White Lies tidak ketemu yang lainnya. Saya patah hati. Barulah bertahun-tahun kemudian, saya melihat judul baru, dan lupa sama sekali kalau penulisnya adalah salah satu yang paling saya gemari: After the Night, alias Menanti Fajar. Sejak halaman pertama rasa-rasanya seluruh tubuh dan pikiran saya tersedot ke dalam pusaran cerita, menghempaskan saya ke kiri dan ke kanan bersama Faith Devlin, gadis buangan yang bangkit dari kubangan sampah. Deskripsi Howard benar-benar membuat saya takjub, sangat detail dan hingga sesaat saya lupa kalau itu adalah genre harlequin yang seharusnya tidak perlu sebagus itu (hei, salahkan saya yang sinis ini). Kalau ada tokoh utama Harlequin yang saya paling ingin menjadi dirinya, tentu saja itu Faith Devlin Hardy atau Rouillard, whatever. Membayangkan menjadi objek gairah pria yang digambarkan oleh Howard sebagai pria yang kokoh bagai batu karang, dengan perangai mirip bajak laut, tinggi besar, memancarkan gairah dari setiap sel-sel tubuhnya… WHOOOOOOOOOOO! (Kamu mengerti perasaan saya kan?) Gray Rouillard jelas hero yang memuaskan. Beberapa teman yang saya tanyai setuju kalau After the Night adalah kisah paling memorable dalam sejarah harlequin yang pernah kami baca, dan Howard telah menancapkan standar baru yang sangat tinggi. Beberapa kali saya mencoba membaca karya-karya lainnya yang hampir mirip jalan ceritanya, tapi tidak ada yang sekuat, sekeras, dan semeluluh lantakkan Menanti Fajar, baik itu jalan cerita, karakter, dan bahkan sex scene nya sangat luar biasa dan membuat para wanita terhanyut… UWOOOOOOOOOOOOO! Berikut bermunculan karya Linda yang lain, seperti To Die For, Killing Time, Mr. Perfect, Dream Man, dan beberapa judul lainnya yang bervariasi.

Sebenarnya apa formula yang dipunyai Linda Howard yang membuatnya memiliki basis fans yang sangat setia dan bahkan cenderung bonek (saya)? Ia menulis mulai dari kisah pemilik ranch, perawan yang mencintai biilionaire, peramal, detektif dari masa depan, staf keuangan bermulut kotor, hingga pemilik pusat kebugaran. Tokoh-tokohnya bervariasi, dengan laki-laki yang juga sangat bervariasi, tapi saya dengan mudah dapat menarik benang merah yang menjadi persamaan seluruh kisah-kisah Howard (setidaknya yang sudah diterbitkan Gramedia, namun saya berani bertaruh kisah yang lain pun pasti sama, perut saya mulas hanya dengan membicarakannya!!!). Apa itu?

“I think for it to be real (romance writers) absolutely have to love men to begin with. I do – I think they’re wonderful creatures. I think every thinking woman should own one,” kata Linda Howard dalam sebuah wawancara.

Dan memang tampak jelas kecintaan Howard pada para pria dalam bukunya. Siapa yang tidak terpesona oleh pria macam Dane Hollister, Sam Donovan, John Rafferty, Max Benedict, Gray Rouillard, Rome Matthews, mereka semua adalah pria alpha to the max, dalam artian pria yang nyaris sempurna. Mereka adalah pria yang ada pada puncak evolusi Darwin, lebih pintar, lebih cepat, lebih kuat dari pria lain. Hal ini, kata Howard disebabkan karena wanita yang kuat membutuhkan pria yang kuat untuk mengimbanginya. Baiklah, berikut ini adalah lima alasan kenapa saya ingin jadi stalkernya Linda Howard kalau saja ia tinggal di Indonesia.

1. Ciri khas tokoh utama pria yang berbeda dari buku karangan penulis lain

Karakteristik itu antara lain:

- Pria-Pria Howard barangkali playboy, arogan, dan pernah tidur dengan banyak wanita, tapi dia sangat setia pada heroine yang dipasangkan dengannya. Ini adalah syarat wajib seorang hero buatan LH. Itu barangkali bisa disebabkan karena ia belum pernah jatuh cinta sebelumnya, dan mencintai sang tokoh utama wanita seringkali menjadi hal yang tidak disukainya, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa buat mengendalikannya. Sehingga mau tidak mau ia terpaksa harus mengakuinya kalau tidak mau kehilangan wanita miliknya. Jadi tidak mungkin ada kasus cinta segi tiga di mana Dane Hollister ternyata pacar saudara perempuannya Marnie, dsb, oh please)

- Sangat, sangat, sangat menggairahkan. Dengan fisik yang sempurna dan prima, pria-pria Howard benar benar pria impian setiap wanita. Sepertinya naluri biologis mereka adalah untuk menghamili sebanyak mungkin wanita di muka bumi, tapi entah kenapa (kadang mereka sendiri bahkan tidak menyadari maupun menyukai hal ini) ia hanya bisa melakukannya dan mencintai terhadap satu orang wanita saja. Hasrat seksualnya akan tertuju pada satu orang itu saja.

- Sangat, sangat, sangat posesif. Pria Howard selalu ingin melindungi dan menjaga wanita milik mereka. Laki-laki lain yang mendekati wilayah mereka harus siap menghadapi amukan dan kemarahan pria-yang luar biasa menakutkan. (Ex: Rome Matthews vs Max Benedict dalam Sarah’s Child). Kadangkala dibutuhkan pria lain untuk membuat sang hero sadar bahwa ia tidak bisa kehilangan kekasihnya.

2. Ciri khas tokoh utama wanita

Saya tidak tahu buku-bukunya yang lebih lama, tapi dari buku-buku yang diterbitkan di sini, saya melihat semakin lama para heroine dari Linda Howard menjadi semakin independen dan percaya diri. (Ex: bandingkan Jane Bright dengan Evangeline dari Loving Evangeline). Para wanita Howard ini adalah wanita yang tidak akan bisa menahan diri bila berada di dekat pasangan tandingnya. Pengaruh para pria itu terlalu besar dan kuat untuk bisa ditolaknya. Seandainya saja lelakinya tahu kalau ia akan mudah ditundukkan dengan ciuman, tapi biasanya para wanita Howard mampu menyembunyikan perasaannya dengan baik (sampai tahap tertentu) dan berdiri di atas kedua kakinya sendiri. Mereka tidak akan merengek jika lelakinya meninggalkan mereka. Sakit hati jelas, tapi di balik kerapuhan fisik mereka yang mungil, tersimpan tekad yang kuat yang tidak akan tergoyahkan. Wanita-wanita Howard mempunyai harga diri, karena itulah mereka sudah pasti tidak akan mencumbu mantan pacar kakaknya atau ibunya, tidak akan bercinta dengan pria beristri, dan kadang beberapa heroine seperti Jane atau Faith tahu benar bagaimana menggunakan kekuatannya untuk menaklukkan si tokoh pria, dan membuat mereka tak berdaya.

3. Sex scene yang luar biasa

Dalam banyak board diskusi tentang buku-buku roman, adegan seks buatan Linda Howard selalu disebutkan. Banyak yang menganggap bahwa LH menuliskan adegan percintaan yang efektif, yang terkadang bahkan sangat keras dan kasar atas nama kebutuhan untuk selalu bersentuhan yang sangat menarik buat dibaca. Saya berpendapat bahwa adegan percintaan dalam buku-buku LH cenderung bersumber dari sudut pandang dan keputus-asaan gairah si lelaki, yang membuatnya terasa lebih keras menghentak, yang menjadikan bukunya berbeda dari pengarang lain. Cowok-cowok Howard adalah tipe pemburu yang selalu mengejar dan membutuhkan wanita tertentu di sisinya, membayangkan diri saya menjadi fokus dari tipe intensitas itu membuat jantung saya berdebar-debar. (mendesah)

4. Dinamitas hubungan yang di luar pakem

Poin keempat ini adalah tribute buat After the Night, di mana Howard mendobrak pakem dengan menciptakan dua karakter utama yang tidak biasa. Faith Devlin berada di atas rata-rata heroine dalam kisah Harlequin. Ia adalah gadis yang tidak kenal takut, cerdas, luar biasa cantik, puritan, namun benar-benar independen. Sedangkan Gray Rouillard barangkali adalah sosok hero yang sedikit keluar jalur dari pakem tokoh utama pria, walaupun tentu saja tidak meninggalkan kaidah karakteristik tokoh pria di atas. Ia barangkali adalah satu-satunya tokoh utama pria Harlequin yang berkarakter kejam. Banyak pembaca mengeluh mereka tidak bisa memaafkan perlakuan Gray, bahwa Faith terlalu cepat memaafkan pria itu, walaupun tentu saja kita sepenuhnya memahami alasannya. Selain Gray beberapa karakter Howard juga sedikit melampaui batas, seperti perlakuan Rome Matthews pada Sarah yang membuat kita menangis. Tapi semua itu menjadikan mereka lebih spesial.

5. Plot

Banyak orang beranggapan membaca harlequin tidak perlu memperhatikan plot. Tapi buku-buku terbaru LH mempunyai plot aktual yang cukup menegangkan dan menarik untuk dibaca. Sepertinya kesukaannya yang terbaru adalah menulis roman suspense, dengan ketegangan dan misteri yang harus dipecahkan. Jangan membayangkan Agatha Christie atau Sidney Sheldon tentu saja, tapi memang cukup membosankan kalau kita hanya membaca kisah cinta sekretaris dengan bosnya tanpa plot yang berarti. Setidaknya jika mereka nekad melakukannya tanpa plot yang memuncak, kedua tokoh utamanya harus benar-benar kuat, tapi biasanya gagal.

DONE. Seandainya saya bisa menjadi heroine dalam sebuah buku, maka saya akan memilih menjadi Faith Devlin. Kalau kamu belum membaca After the Night, maka kamu belumlah sepenuhnya melek Harlequin. Hehehe.

Kalau saya membayangkan seperti apa ya cowok Linda Howard itu, barangkali yang seperti cowok yang dipakai dalam pemotretan ini:

Atau mungkin malah gay? Hmh memang karakter fiksi dalam benak kita susah kalau mau diterjemahkan dalam kehidupan nyata. Tapi memang yumm.



Label: , , ,

6 Komentar:

Anonymous ICA mengatakan...

setuju banget aku juga salah satu pecinta LH banget, dibandingin penulis roman lainnya,
gara2 dipinjemin MR PERFECT jadi ketagihan,
aku baru baca be2rapa: HEART BREAKER, TEARS OF RENEGADE, KILL&TELL, AFTER THE NIGHT, ALMOST FOREVER,KILLING TIME, WHITE LIES,

22 Mei 2009 pukul 03.11  
Blogger cavewoman mengatakan...

iyaaaa aku jugaa hihihi

27 Mei 2009 pukul 22.30  
Anonymous Anonim mengatakan...

LH is the best

9 Agustus 2009 pukul 19.06  
Anonymous ica mengatakan...

hidup linda howard hahaha
aku punya ebookny karya linda howard dari mulai taun 80'an sampe 2000'an sampe TO DIE FOR jadi satu, judulnya lebih dari 20'an sampe sekarangpun belom kelar2 bacanya abis banyak banget pake b. inggris lagi..sampe yang ga terbit di indonesia pun ada
udah punya belom..?

10 Agustus 2009 pukul 22.26  
Blogger cavewoman mengatakan...

icaaaaa can u lend me some... :D

12 Agustus 2009 pukul 18.04  
Anonymous ica mengatakan...

aku kirim kemana..? pake MSN aku ga bisa, punya face book ga? ato email yahoo deh

17 Agustus 2009 pukul 22.35  

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda