Miss Stephenie Meyer, Please Stop Writing
Demam Twilight.
Sh*t.
Sh*t.
Saya termasuk yang menonton filmnya dulu baru membaca novelnya. Waktu melihat filmnya pertama kali, saya pikir, well, ini impian para gadis. Siapa sih orangnya yang tidak mau menjadi Bella Swann, dicintai dengan sekuat tenaga seperti itu oleh vampire ganteng yang serba bisa. Ini seperti masa remaja kurang bahagia, impian musim panas, atau mimpi di siang hari para cewek, untuk terlibat dalam kasus hidup dan mati, tapi sepenuhnya tahu kalau ada Edward Cullen yang selalu siap mengorbankan nyawa demi ceweknya. Untuk ini, saya beri Meyer jempol, karena mampu membidik bagian pling peka yang pernah dimiliki oleh seorang gadis: keinginan untuk mempunyai pacar super ganteng, super hebat, super sexy, super smart, super cepat, super menggairahkan.
O-HO, tapi bahkan wajah Edward Cullen hanya mampu membuat saya terpekik-pekik kegirangan sambil memegang tangan teman yang duduk di sebelah karena gemas, tidak membuat saya tidak jadi merasakan bahwa film barusan yang saya tonton sekosong perut saya saat menulis entry ini. Konflik yang seharusnya datang sejak awal (menurut buku skenario karangan penulis kenamaan yang saya baca) malah diisi Bella yang penasaran, dan Edward yang plin-plan, dan kisah asyik masuk, yang detailnya asyik saja kalau kita baca di buku tapi membosankan ditonton. Konflik tentang kedatangan tiga vampir tidak cukup buat membangun ketegangan sebuah film berdurasi 90 menit, dan kisah Bella yang terpaksa melarikan diri untuk menyelamatkan semua orang (please, she's like the most egoistic character I've ever read) sepertinya pointless, dan kurang berarti. Kok lebih mirip film seri ya, hanya Buffy the Vampire Slayer yang sama-sama mengangkat soal percintaan dengan vampir jauh lebih berbobot dan lebih bagus. Kisah cinta yang seharusnya terlarang dan membuat berdebar-debar karena godaannya itu rasanya malah jadi cerita romantis penuh sakarin yang terlalu manis hingga sulit ditelan.
Dengan berbekal kebebalan sesaat karena telah dibutakan oleh Robert Pattinson, saya memutuskan akan memberikan kesempatan kedua pada bukunya. Karena bisa jadi mungkin adaptasinya ke filmlah yang membuatnya jadi jelek. Lalu saya berencana membeli keempat jilidnya, namun agen dari persewaan buku langganan baru membawakan jilid pertama, yang entah bagaimana saya syukuri karena saya jadi tidak perlu membuang-buang uang untuk membeli buku ini.
Saya membayangkan ketegangan dan kenikmatan saat membaca buku itu, seperti The Lord of The Rings tetap memikat saya walaupun telah melihat filmnya, tapi memang salah saya sendiri membandingkan Tolkien dengan siapapun. Standardnya terlalu tinggi. Buku itu penuh dengan kalimat yang diulang-ulang dan terkesan sangat dangkal. Mulai dari penulisannya, hingga karakter tokoh-tokohnya, bahkan sang tokoh utama. Pesona Bella Swan, ketimbang berlandaskan kekuatan karakter yang sanggup membuat kita berpikir kalau dia ada dan nyata di suatu tempat, merasakan apa yang ia rasakan, melihat apa yang dia lihat, seperti Jean-Louise (Scout) Finch dalam To Kill a Mockingbird, Margaret dalam Are You There God? It's me Margaret, lebih berlandaskan kelebihan dan hal-hal yang sifatnya magis. Pada mulanya ia nobody dan sekonyong-konyong para pria dan vampir berebut ingin mendapat perhatiannya. Seperti mengapa Edward mencintainya, atau mula-mula tertarik padanya bukanlah berdasarkan karakter Bella sendiri, melainkan karena aroma dan keperawanannya, yang membuat sang vampir mabuk. Lantas apa bedanya hal semacam itu, dengan misalnya seorang pria memilih kekasih karena ceweknya "hot", "cantik", "sexy". Menurut saya sebagai literatur, Twilight bahkan sangat tidak mendidik para muda untuk berpikir jauh lebih dalam, menembus apa yang disebut sebagai kedangkalan fisik. Pelajaran moralnya memang ada, tapi kedangkalannya keburu membuat saya mual-mual dan gatal. Bella sendiri, dalam kalimat yang banyak tertuang di dalam buku selalu mengulang-ulang bahwa Edward memikatnya karena sosoknya yang rupawan, tampan, menawan. Seolah-olah pembaca tidak cukup pintar untuk berpikir, OK he's handsome, I got it, then what? Apakah serta merta akan jatuh cinta oleh apa yang diperhatikan oleh Bella dari diri Edward, jika ia tidaklah memiliki kualitas lain yang patut dibanggakan? (Yaaaaaaaaa, teriak wanita gua dalam diri saya dan beberapa teman wanita hehe)
Di negara barat tempat asal buku ini sendiri sudah banyak kritik yang dilontarkan. Seputar apakah sosok Bella Swan yang banyak diidolakan itu memang cocok untuk dipakai sebagai panutan. Adegan kelahiran putri Bella, Renesmee, bahkan menuai kritikan karena dianggap terlalu sadis. Bella Swan adalah sosok yang lemah, yang seolah tergantung pada Edrward, yang kebahagiaannya adalah apabila Edward bahagia. Kehamilan yang sangat berbahaya bagi nyawanyapun tetap ia jalani, dan adegannya memang digambarkan sangat kejam.

Satu lagi yang menunjukkan kedangkalan pemikiran dari Bella Swan, adalah ia memandang bahwa Vampir adalah makhluk yang sangat hebat, memiliki superpower, rupawan, dan sebagainya. Dari jilid satu sampai empat rasa-rasanya tujuan hidupnya hanyalah menjadi ceweknya Edward dan yang kedua menjadi vampir seperti Edward. Ia cenderung egois, dan eksistensinya seolah hanya ditentukan apakah ada lelaki yang mencintai dirinya (Ketika Edward pergi, ia bisa bertahan dan tersenyum kembali setelah ada Jacob). Di jilid yang menggambarkan perubahan Bella menjadi vampir, oleh Meyer digambarkan seperti pion yang menjadi ratu. Rasa-rasanya kok menjadi ratu gara-gara gigitan dan menjadi vampir itu agak mengawang. Alih-alih memperkuat karakter yang kedodoran, Meyer membuat Bella Swan menjadi gadis biasa yang kejatuhan spell, mendadak vampir. Menggelikan.
I can keep going on and on, but yeah, I guess that's all. Intinya, baik buku dan filmnya bukanlah bandingan untuk literatur bermutu lain, namun kalau kau sedang kesepian dan butuh penghiburan romantis, melihat filmnya barangkali bisa jadi tambahan vitamin, mengingat Pattinson memang cakep, terlalu pucat tapi cakep. Tapi bukunya memang tidak terlalu menarik. Stephenie seharusnya berhenti saja setelah buku pertama atau kedua, sebab ia terkesan anya mengulang-ulang formula yang sama. Setelah Bella menjadi vampir, praktis sudah tidak ada lagi konflik yang berarti.
0-5 rate, saya beri 1,5 untuk bukunya, dan 2,5 untuk filmnya.
Aksinya lumayan menyenangkan, adegan favorit saya (barangkali juga favorit mayoritas) waktu Edward menggendong Bella ke pucuk pepohonan yang terlihat lebih asyik daripada saat Mary-Jane berayun bersama Spiderman. Dan yang lain adalah adegan saat Keluarga Cullen bermain baseball di puncak gunung dengan halilintar menyambar-nyambar. Asyik banget.
Mengapa cewek suka Twilight? (Tips buat cowok-cowok)
O-HO, tapi bahkan wajah Edward Cullen hanya mampu membuat saya terpekik-pekik kegirangan sambil memegang tangan teman yang duduk di sebelah karena gemas, tidak membuat saya tidak jadi merasakan bahwa film barusan yang saya tonton sekosong perut saya saat menulis entry ini. Konflik yang seharusnya datang sejak awal (menurut buku skenario karangan penulis kenamaan yang saya baca) malah diisi Bella yang penasaran, dan Edward yang plin-plan, dan kisah asyik masuk, yang detailnya asyik saja kalau kita baca di buku tapi membosankan ditonton. Konflik tentang kedatangan tiga vampir tidak cukup buat membangun ketegangan sebuah film berdurasi 90 menit, dan kisah Bella yang terpaksa melarikan diri untuk menyelamatkan semua orang (please, she's like the most egoistic character I've ever read) sepertinya pointless, dan kurang berarti. Kok lebih mirip film seri ya, hanya Buffy the Vampire Slayer yang sama-sama mengangkat soal percintaan dengan vampir jauh lebih berbobot dan lebih bagus. Kisah cinta yang seharusnya terlarang dan membuat berdebar-debar karena godaannya itu rasanya malah jadi cerita romantis penuh sakarin yang terlalu manis hingga sulit ditelan.
Dengan berbekal kebebalan sesaat karena telah dibutakan oleh Robert Pattinson, saya memutuskan akan memberikan kesempatan kedua pada bukunya. Karena bisa jadi mungkin adaptasinya ke filmlah yang membuatnya jadi jelek. Lalu saya berencana membeli keempat jilidnya, namun agen dari persewaan buku langganan baru membawakan jilid pertama, yang entah bagaimana saya syukuri karena saya jadi tidak perlu membuang-buang uang untuk membeli buku ini.
Saya membayangkan ketegangan dan kenikmatan saat membaca buku itu, seperti The Lord of The Rings tetap memikat saya walaupun telah melihat filmnya, tapi memang salah saya sendiri membandingkan Tolkien dengan siapapun. Standardnya terlalu tinggi. Buku itu penuh dengan kalimat yang diulang-ulang dan terkesan sangat dangkal. Mulai dari penulisannya, hingga karakter tokoh-tokohnya, bahkan sang tokoh utama. Pesona Bella Swan, ketimbang berlandaskan kekuatan karakter yang sanggup membuat kita berpikir kalau dia ada dan nyata di suatu tempat, merasakan apa yang ia rasakan, melihat apa yang dia lihat, seperti Jean-Louise (Scout) Finch dalam To Kill a Mockingbird, Margaret dalam Are You There God? It's me Margaret, lebih berlandaskan kelebihan dan hal-hal yang sifatnya magis. Pada mulanya ia nobody dan sekonyong-konyong para pria dan vampir berebut ingin mendapat perhatiannya. Seperti mengapa Edward mencintainya, atau mula-mula tertarik padanya bukanlah berdasarkan karakter Bella sendiri, melainkan karena aroma dan keperawanannya, yang membuat sang vampir mabuk. Lantas apa bedanya hal semacam itu, dengan misalnya seorang pria memilih kekasih karena ceweknya "hot", "cantik", "sexy". Menurut saya sebagai literatur, Twilight bahkan sangat tidak mendidik para muda untuk berpikir jauh lebih dalam, menembus apa yang disebut sebagai kedangkalan fisik. Pelajaran moralnya memang ada, tapi kedangkalannya keburu membuat saya mual-mual dan gatal. Bella sendiri, dalam kalimat yang banyak tertuang di dalam buku selalu mengulang-ulang bahwa Edward memikatnya karena sosoknya yang rupawan, tampan, menawan. Seolah-olah pembaca tidak cukup pintar untuk berpikir, OK he's handsome, I got it, then what? Apakah serta merta akan jatuh cinta oleh apa yang diperhatikan oleh Bella dari diri Edward, jika ia tidaklah memiliki kualitas lain yang patut dibanggakan? (Yaaaaaaaaa, teriak wanita gua dalam diri saya dan beberapa teman wanita hehe)Di negara barat tempat asal buku ini sendiri sudah banyak kritik yang dilontarkan. Seputar apakah sosok Bella Swan yang banyak diidolakan itu memang cocok untuk dipakai sebagai panutan. Adegan kelahiran putri Bella, Renesmee, bahkan menuai kritikan karena dianggap terlalu sadis. Bella Swan adalah sosok yang lemah, yang seolah tergantung pada Edrward, yang kebahagiaannya adalah apabila Edward bahagia. Kehamilan yang sangat berbahaya bagi nyawanyapun tetap ia jalani, dan adegannya memang digambarkan sangat kejam.

Satu lagi yang menunjukkan kedangkalan pemikiran dari Bella Swan, adalah ia memandang bahwa Vampir adalah makhluk yang sangat hebat, memiliki superpower, rupawan, dan sebagainya. Dari jilid satu sampai empat rasa-rasanya tujuan hidupnya hanyalah menjadi ceweknya Edward dan yang kedua menjadi vampir seperti Edward. Ia cenderung egois, dan eksistensinya seolah hanya ditentukan apakah ada lelaki yang mencintai dirinya (Ketika Edward pergi, ia bisa bertahan dan tersenyum kembali setelah ada Jacob). Di jilid yang menggambarkan perubahan Bella menjadi vampir, oleh Meyer digambarkan seperti pion yang menjadi ratu. Rasa-rasanya kok menjadi ratu gara-gara gigitan dan menjadi vampir itu agak mengawang. Alih-alih memperkuat karakter yang kedodoran, Meyer membuat Bella Swan menjadi gadis biasa yang kejatuhan spell, mendadak vampir. Menggelikan.
I can keep going on and on, but yeah, I guess that's all. Intinya, baik buku dan filmnya bukanlah bandingan untuk literatur bermutu lain, namun kalau kau sedang kesepian dan butuh penghiburan romantis, melihat filmnya barangkali bisa jadi tambahan vitamin, mengingat Pattinson memang cakep, terlalu pucat tapi cakep. Tapi bukunya memang tidak terlalu menarik. Stephenie seharusnya berhenti saja setelah buku pertama atau kedua, sebab ia terkesan anya mengulang-ulang formula yang sama. Setelah Bella menjadi vampir, praktis sudah tidak ada lagi konflik yang berarti.
0-5 rate, saya beri 1,5 untuk bukunya, dan 2,5 untuk filmnya.
Aksinya lumayan menyenangkan, adegan favorit saya (barangkali juga favorit mayoritas) waktu Edward menggendong Bella ke pucuk pepohonan yang terlihat lebih asyik daripada saat Mary-Jane berayun bersama Spiderman. Dan yang lain adalah adegan saat Keluarga Cullen bermain baseball di puncak gunung dengan halilintar menyambar-nyambar. Asyik banget.
Mengapa cewek suka Twilight? (Tips buat cowok-cowok)


1 Komentar:
Aku salah satu yg ga suka twilight juga, cuma baca buku kesatu abis itu ga tertarik baca ke 2,3,4, bukunya ga bikin gréget dan stelah baca kesanya biasa aja
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda